Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sempat Lesu karena Omicron, Industri Plastik Siapkan Pasar Lebaran

Tidak ada penurunan utilitas kapasitas produksi baik di hulu maupun hilir. Rata-rata utilitas kapasitas produksi pabrik plastik berada di angka 85 persen.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 01 Maret 2022  |  16:34 WIB
Pabrik Plastik - Bisnis Indonesia
Pabrik Plastik - Bisnis Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - Dampak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) karena lonjakan kasus Omicron, sempat membuat lesu permintaan plastik.

Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan pengaturan work from home (WFH) 75 persen di Jakarta berimbas pada penurunan permintaan makanan kemasan. Selain itu, kenaikan harga komoditas dan keterlambatan masuknya bahan baku impor juga berakibat utilitas kapasitas produksi pabrikan yang stagnan.

Namun, menjelang Ramadan dan Lebaran, pabrikan mulai menimbun stok mengantisipasi kenaikan permintaan.

"Harga-harga naiknya banyak dan barang-barang impor masuknya agak telat sehingga orang mempertahankan utilitas kapasitas produksinya tidak maksimal," kata Fajar kepada Bisnis, Selasa (1/3/2022).

Sementara harga bahan baku terus mengalami kenaikan, permintaan di pasar cenderung tidak bergerak. Namun demikian, Fajar memastikan tidak ada penurunan utilitas kapasitas produksi baik di hulu maupun hilir. Rata-rata utilitas kapasitas produksi berada di angka 85 persen.

Selain terpacu momentum Lebaran, membaiknya produksi juga didorong geliat sektor pariwisata dan pesta seiring pembukaan kembali Pulau Bali. Permintaan di sektor pariwisata diperkirakan akan terus membaik pada bulan ini.

"Industri pariwisata dan pesta sudah mulai bergeliat, demand sudah lebih baik daripada pertengahan Februari pada saat Omicron masih tinggi-tingginya," jelasnya.


Sementara itu, mengenai dampak konflik Rusia-Ukraina, Fajar mengatakan industriawan masih menunggu potensi upaya damai. Jika invasi Rusia terus berlangsung, harga minyak yang tinggi diprediksi akan bertahan dalam waktu yang cukup lama.

Selain itu, aliran ekspor dan pasokan bahan baku impor juga akan terhambat karena gangguan logistik yang disebabkan konflik dua negara tetangga itu.

"Jadi kami masih wait and see, kalau untuk [pasar] lokal sih oke," kata Fajar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inaplas industri plastik
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top