Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jasa Kesehatan Jadi Sektor Paling Tumbuh Saat Pandemi Covid-19

Jasa kesehatan menjadi salah satu sektor yang paling tumbuh pada saat krisis Covid-19, sedangkan sektor transportasi dan pergudangan justru paling terdampak akibat Covid-19.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 21 Februari 2022  |  22:59 WIB
Ilustrasi-Tes Covid-19.  - Bumame Farmasi.
Ilustrasi-Tes Covid-19. - Bumame Farmasi.

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 telah memengaruhi berbagai sektor kehidupan, salah satunya pada sektor lapangan usaha.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS)  Margo Yuwono menyampaikan sektor yang paling terkena dampak akibat pembatasan mobilitas karena kasus pandemi Covid-19 adalah sektor transportasi dan pergudangan.

"Sektor transportasi dan pergudangan di tahun 2020 atau pada saat krisis Covid terkontraksi -15,05 persen,  dan kalau kita lihat tahun sebelum krisis [2019] itu 6,39 persen. Dan tahun 2021 dengan perbaikan mobilitas,sektor ini sudah tumbuh 3,24 persen," ungkap Margo dalam Diskusi Publik Kinerja Pertumbuhan Ekonomi di Masa Pandemi, Senin (21/2/2022).

Sektor lainnya yang juga terkena dampak adalah sektor akomodasi  dan makan minum, dimana hotel dan restoran juga terdampak karena mobilitas penduduk semakin terbatas.

Sebaliknya, Margo mengatakan ada beberapa sektor yang mendapat keuntungan dari kondisi pandemi di tahun 2020.

Sektor yang paling tumbuh pada saat krisis Covid-19 adalah jasa kesehatan. Sektor ini tumbuh 11,56 persen di tahun 2020, jauh lebih tinggi daripada sebelum krisis, yaitu 8,69 persen di tahun 2019.

Sektor kedua yang tumbuh di tengah pandemi kemarin adalah informasi dan komunikasi (infokom) dimana sektor ini tumbuh 10,61 persen di tahun 2020.

Diakui Margo, di tengah pandemi kemarin ada sektor-sektor yang memang terdampak cukup berat dan juga ada sektor-sektor yang tetap tumbuh dan bertahan di tengah krisis. Artinya,dampak pandemi itu berbeda antar sektor, tergantung jenis dan aktivitas dari masing-masing sektor tersebut.

Kendati demikian, Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto mengatakan, beberapa sektor yang selalu tumbuh positif tersebut jika dihitung secara kontribusi hanya mencapai 23 persen sedangkan 76,6 persen lapangan usaha sempat mengalami pertumbuhan negatif.

"Yang mendapat windfall di tahun 2020 dan 2021 itu bukan sektor yang paling besar ya, di dalam PDB. Yang gede-gede  mengalami penurunan sehingga industri atau sektor lainnya mengalami pertumbuhan negatif,"  kata Eko.

Lantas apakah ini berarti pertumbuhan ekonomi di Indonesia terutama pada sektor lapangan usaha sudah pulih?

Meskipun ada beberapa sektor yang tetap tumbuh dan bertahan di tengah pandemi seperti PDB di jasa kesehatan, infokom, pertanian, pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang, serta real estate konsisten meningkat, namun Eko mengatakan ada juga beberapa sektor yang belum kembali, terutama di sektor transportasi dan pergudangan.

Sampai hari ini, sektor tersebut belum kembali ke posisi 2019. Beberapa sektor lain seperti penyediaan akomodasi makan dan minum, konstruksi, jasa perusahaan, serta administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial juga masih belum pulih atau kembali ke situasi normal atau mungkin bisa lebih tinggi.

Sehingga apa yang bisa dilakukan kedepannya? Berdasarkan data asumsi makro APBN 2022 yang disandingkan dengan Outlook INDEF bulan November 2021, Eko melihat bahwa tidak mudah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun 2022 yakni 5,2 persen walaupun sebetulnya  INDEF memproyeksi tahun ini tumbuh 4,3 persen.

Beberapa indikator lain seperti inflasi oleh INDEF diperkirakan sedikit lebih tinggi, namun secara inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen)  kemungkinan tidak akan melompat seperti di AS. Tapi juga akan meningkat setidaknya 2 kali  dari tahun lalu.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pada nilai tukar ada sedikit depresiasi, namun kita juga bisa melihat nilai tukar di Indonesia cukup stabil.

"Pembedanya adalah asing sudah banyak yang keluar  ketika pada saat awal-awal pandemi itu, sehingga kalau goncangan sih mungkin tidak akan terlalu  kuat walaupun mungkin  sekali atau dua kali terjadi tapering atau peningkatan suku bunga, itu mungkin tetap ada yang memanfaatkan situasi pasar ya. Dugaan saya tetap ada, tapi overall 2022 kami melihat rupiah relatif stabil ya walaupun tidak seapresiatif  seperti yang ditargetkan pemerintah," ungkapnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Covid-19
Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top