Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Stok Masker dan APD Melimpah, Ekspor Masih Seret

Berdasarkan neraca penawaran-permintaan dalam Dashboard Monitoring Alkes (DMA), volume ekspor masker dan APD pada tahun lalu masih menyisakan selisih yang lebar dengan jumlah produksi dan kebutuhan dalam negeri.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 16 Februari 2022  |  11:27 WIB
Pembagian masker N95 kepada pengendara di wilayah Pejaten Barat, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. - Antara
Pembagian masker N95 kepada pengendara di wilayah Pejaten Barat, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Stok masker dan alat pelindung diri (APD) di dalam negeri masih melimpah, di tengah ekspor yang masih tersendat. Padahal, keran ekspor masker dan APD dibuka sejak pertengahan 2020, menanggulangi kelebihan pasokan akibat tingginya pelaku usaha tekstil yang beralih memproduksi dua kebutuhan terkait Covid-19 tersebut.

Seretnya ekspor ditengarai salah satunya sebagai imbas berkepanjangan dari masalah logistik yang belum terurai. Berdasarkan neraca penawaran-permintaan dalam Dashboard Monitoring Alkes (DMA), volume ekspor masker dan APD pada tahun lalu masih menyisakan selisih yang lebar dengan jumlah produksi dan kebutuhan dalam negeri.

Ekspor APD tercatat 314,9 ton dari total produksi 108.226,6 ton dan kebutuhan domestik 3.721,8 ton. Artinya masih ada stok APD sebanyak 104.184,90 ton. Demikian pula dengan ekspor gaun bedah atau surgical gown yang sebesar 1.680,9 ton dari total produksi 45.770,3 ton dan serapan domestik 1.499,4, sehingga masih ada selisih 42.590,05 ton.

Adapun, ekspor masker sepanjang tahun lalu hanya 144,8 ton dari total produksi 14.820 ton dan kebutuhan nasional 565,1 ton, sehingga masih ada stok 14.110,05 ton.

"Bukan hanya untuk APD sebetulnya, tapi untuk TPT [tekstil dan produk tekstil] secara umumnya biaya pengapalan dan terbatasnya kontainer masih menjadi kendala," kata Direktur Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian Elis Masitoh kepada Bisnis, belum lama ini.

Sementara itu, neraca yang masih negatif dan dipenuhi impor yakni respirator N95 dan bahan baku spundbond & metblown. Impor masker N95 sepanjang tahun lalu tercatat sebesar 48.885,9 ton, dengan kebutuhan domestik 346,2 ton dan produksi 97,2 ton. Adapun impor spundbond & metblown pada 2021 sebesar 50.634,5 ton dengan kebutuhan 10.872.645 ton dan produksi 2.250 ton.

Sekjen Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan pengusaha tekstil memiliki pengalaman tak menyenangkan pada produksi masker dan APD karena tarik ulur aturan ekspor.

Pada awal pandemi, pemerintah sempat melarang ekspor masker, APD, dan bahan bakunya untuk mengamankan kebutuhan dalam negeri. Larangan tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan No.34/2020 yang ditetapkan 31 Maret 2020.

Saat itu, banyak produsen tekstil mengalihkan kapasitas produksinya ke masker dan APD untuk menanggulangi sepinya pesanan. Keran ekspor baru dibuka tiga bulan kemudian melalui Permendag No.57/2020 yang ditetapkan pada 16 Juni 2020.

"Di tekstil sudah tidak ngomongin APD lagi, karena agak trauma, kami sudah bikin banyak untuk pasar lokal, tapi impor dibuka. Ekspor juga baru dibuka ketika kami sudah protes. Begitu market-nya sudah slow down, ekspornya dibuka," kata Redma.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apd masker
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top