Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Menguji Taji Perpanjangan Diskon PPN Rumah Menopang Industri Bangunan

Banjirnya produk impor serta kendala aktivitas akibat lonjakan infeksi Covid-19 merupakan tantangan bagi insentif fiskal berupa diskon PPN Rumah bisa menghasilkan efek domino.
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan perumahan subdisi di kawasan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (15/1/2022). Bisnis/Arief Hermawan P
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan perumahan subdisi di kawasan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (15/1/2022). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) rumah sampai dengan September 2022 disambut semringah oleh pelaku usaha komponen bangunan. Namun, ada pula yang pesimistis bahwa perpanjangan kebijakan itu bakal mengerek minat masyarakat membeli rumah, sehingga dampaknya ke industri komponen bangunan juga melempem.  

Perpanjangan diskon PPN rumah ditengarai karena geliat masyarakat yang belum terlalu tinggi dalam membeli rumah. Menurut catatan Kementerian Keuangan, realisasi serapan insentif PPN DTP Rumah merupakan yang paling rendah di klaster insentif dunia usaha, yakni sebesar Rp0,79 triliun.

Anggaran yang masuk dalam dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tersebut tercatat dimanfaatkan oleh 941 pengembang.

Ketua Klaster BjLAS Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Henry Setiawan mengatakan sebelum perpanjangan kebijakan itu pun, belum ada peningkatan yang cukup signifikan pada permintaan dalam negeri.

"Dari situ [serapan anggaran PEN ke properti] bisa diperkirakan bahwa animo masyarakat terhadap properti itu belum seperti harapan," kata Henry kepada Bisnis, Rabu (9/2/2022).

Utilitas produksi BjLAS dalam negeri saat ini masih di bawah 50 persen dari total kapasitas sebesar 1,5 juta ton per tahun. Jika kapasitas itu dimaksimalkan, industri BjLAS domestik seharusnya dapat menutupi 90 persen kebutuhan nasional.

Sayangnya, serbuan produk impor masih menjadi ganjalan serius bagi performa industri. Henry pun meminta pemerintah untuk segera turun tangan untuk membendung produk impor mengambilalih pangsa pasar domestik.

UTILITAS

Menguji Taji Perpanjangan Diskon PPN Rumah Menopang Industri Bangunan

Pada tahun ini, Henry berharap utilitas kapasitas produksi dapat naik menjadi di atas 50 persen, sehingga volume produksi dapat melampaui 750.000 ton.  

Lain ladang lain belalang, Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI) optimistis kebijakan itu akan berdampak domino terhadap industri baja lapis. Meski mengakui utilitas kapasitas produksi masih berada di kisaran 40 persen, Ketua Umum ARFI Nicolas Kesuma meyakini pemulihan industri pada tahun ini dapat terwujud dengan proyeksi sejumlah indikator makro dan dukungan kebijakan, salah satunya perpanjangan PPN DTP rumah.

"Secara efek domino pasti memberikan dampak positif ke industri baja ringan, tetapi balik lagi masyarakat prioritasnya ke mana," ujar Nicolas.

Utilitas kapasitas masih berada di angka 40 persen dengan total kapasitas produksi profil baja ringan sebesar 800.000 ton. Dengan demikian, perkiraan produksi profil baja ringan sepanjang tahun lalu yakni 320.000 ton.

Nicolas mengatakan angka tersebut mengalami pertumbuhan sekitar 20 persen dari 2020, di mana produksi anjlok cukup dalam. Tahun ini, dengan gencarnya program vaksinasi dan insentif dari pemerintah, produksi diharapkan bisa terkerek hingga 15 persen. Adapun, utilitas kapasitas produksi diharapkan juga bisa naik hingga 20 persen.

Setali tiga uang dengan Nicolas, Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Gunawan meyakini efek berganda dari kebijakan itu akan signifikan, mengingat serapan kaca yang tinggi ke sektor properti.

Kapasitas terpasang industri kaca lembaran nasional sebesar 1,35 juta ton per tahun. Pada tahun lalu, produksi berhasil tumbuh 12,8 persen menjadi 1,24 juta ton. Adapun, rasio penyerapan ke pasar domestik naik 10,2 persen menjadi 63,5 persen. Sedangkan komposisi ekspor turun terpengaruh kelangkaan kontainer dan mahalnya biaya pengapalan.

Pada 2019 atau sebelum pandemi, produksi mencapai 1,12 juta ton dengan utilitas 83 persen. Pada 2020, produksi turun tipis menjadi 1,10 juta ton, dengan utilitas produksi hanya turun 2 persen saja. Harga gas bumi tertentu sebesar US$6 per MMBTU dinilai menjadi salah satu penopang industri pada 2020.

Yustinus pun meyakini perpanjangan insentif tersebut dapat mendukung proyeksi pertumbuhan produksi tahun ini yang dipatok 5 persen.

"Kebijakan perpanjangan PPN DTP untuk properti pasti berdampak positif terhadap industri kaca lembaran, mengingat sektor properti menyerap 70 persen produk kaca lembaran," ujarnya.

 

PENINGKATAN PRODUKSI

Menguji Taji Perpanjangan Diskon PPN Rumah Menopang Industri Bangunan

Sementara itu, Produsen baja ringan PT Tata Metal Lestari menargetkan kenaikan produksi hingga 50 persen dari 150.000 ton pada tahun lalu menjadi 225.000 ton pada 2022.  

Wakil Presiden Tata Metal Stephanus Koeswandi mengatakan pihaknya berharap ada perbaikan pasar dalam negeri seiring geliat sektor properti.
Pada tahun ini Stephanus berharap bergeliatnya pasar dalam negeri dapat mendorong utilitas perseroan hingga 100 persen.

"Trennya pengembang banyak kembali ke landed house dibandingkan pembangunan apartemen. Kami melihat ada potensi yang cukup besar untuk landed house," kata Stephanus.

Selain itu, dia juga memproyeksi ada potensi serapan yang cukup besar dari naiknya penggunaan solar panel untuk energi terbarukan pada perumahan.

Dia mengakui sempat terjadi perlambatan produksi sejak awal tahun lalu karena pasokan bahan baku bijih besi yang terbatas kemudian mengerek harga.

Sementara itu, importasi bahan baku baja ringan juga mulai kembali naik, dari 2019 sebesar 890.000 ton, kemudian turun pada 2020 menjadi 461.000 ton, dan mulai meningkat kembali di akhir 2021 menjadi 675.000 ton.

Namun demikian, Stephanus juga mengantisipasi penurunan utilitas kapasitas produksi karena lonjakan kasus Covid-19 yang mendorong pembatasan oleh pemerintah. Stephanus mengatakan hal itu berkaca pada penurunan produksi pada tahun lalu karena lonjakan kasus akibat varian Delta.

Pemerintah sebelumnya memutuskan menaikkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) menjadi level 3 untuk Jawa-Bali menyusul lonjakan kasus Covid-19 varian Omicron.

"Kemungkinan akan turun [utilitas kapasitas produksi]. Meskipun konstruksi masuk sektor kritikal dan kami ada orientasi ekspor, tetap akan ada dampaknya ke demand," ujarnya.

Di satu sisi ada optimisme dari sejumlah kelompok pengusaha akan dampak berganda dari perpanjang PPN DTP rumah. Akan tetapi di sisi lain, pemerintah juga perlu mengerem keran produk impor, agar potensi bergeliatnya pasar properti dapat dinikmati oleh industri dalam negeri. 


 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Reni Lestari
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper