Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pacu Ekplorasi untuk Tingkatkan Produksi

Tingkat produksi minyak dan gas bumi (migas) di dalam negeri yang terus menurun tidak terlepas dari rendahnya penemuan cadangan baru. Di sisi lain, sumber-sumber produksi existing pun tengah mengalami kondisi penurunan secara alamiah.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 06 Februari 2022  |  20:56 WIB
Pacu Ekplorasi untuk Tingkatkan Produksi
Platform migas lepas pantai. - Istimewa/SKK Migas
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Tingkat produksi minyak dan gas bumi (migas) di dalam negeri yang terus menurun tidak terlepas dari rendahnya penemuan cadangan baru. Di sisi lain, sumber-sumber produksi existing pun tengah mengalami kondisi penurunan secara alamiah.

Minimnya kegiatan eksplorasi di dalam negeri tercermin dengan rendahnya investasi pada kegiatan tersebut. Selama ini, investasi di sektor hulu migas paling besar disumbangkan untuk kegiatan produksi yang notabene hanya untuk kegiatan existing.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, investasi untuk kegiatan eksplorasi hanya pada kisaran US$600 juta tiap tahunnya. Realisasi itu pun tercatat tidak pernah meningkat.

Sebagai catatan, pada 2017 investasi untuk kegiatan eksplorasi hanya US$600 juta, di 2018 tercatat US$600 juta, dan tetap US$600 juta pada 2019. Sempat turun menjadi US$500 juta di 2020, investasi pada kegiatan eksplorasi kembali ke level US$600 juta pada 2022. Tahun ini, investasi untuk kegiatan eksplorasi ditargetkan senilai US$1 miliar.

Aktivitas eksplorasi pun terbilang tidak mengalami peningkatan yang signifikan, seperti yang tercatat pada 2020 untuk studi G&G sebanyak 89 kegiatan dan naik menjadi 121 kegiatan di 2021.

Sementara itu, kegiatan seismik 2D dari 28.350 kilometer (km) pada 2020 turun menjadi 2.636 km pada 2021, dan tahun ini ditargetkan seluas 3.539 km.

Untuk kegiatan seismik 3D, pada 2020 tercatat seluas 1.251 km persegi, lalu turun menjadi 1.190 km persegi di 2021, sedangkan tahun ini ditargetkan mencapai 4.339 km persegi.

Dari sisi pengeboran eksplorasi, pada 2020 tercatat sebanyak 36 sumur, dan turun menjadi 28 sumur di  2021, targetnya, tahun ini aka nada pengeboran 42 sumur.

Sementara itu, SKK Migas mencatat penemuan cadangan baru atau reserve replacement ratio dalam 4 tahun terakhir berada di atas 100 persen. Hal tersebut menadakan penemuan cadangan lebih tinggi daripada yang diproduksikan.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, produksi di dalam negeri masih mengandalkan lapangan-lapangan existing yang mayoritas telah berumur tua.

Hal itu membuat upaya meningkatkan produksi migas nasional menjadi cukup menantang, mengingat tingkat keekonomian sumur tua yang sulit dicapai.

Di sisi lain, untuk menggenjot investasi migas, khususnya pada kegiatan eksplorasi, Indonesia bukan satu-satunya negara yang tengah melirik investor kakap untuk bisa beroperasi. Investasi di sektor hulu migas pun kian ketat di tengah adanya isu transisi energi.

Dia menjelaskan, salah satu penyebab rendahnya investasi pada kegiatan eksplorasi adalah iklim yang dinilai kurang ramah terhadap investor. Untuk itu, diperlukan insentif dan regulasi yang lebih mendukung agar investor lebih tertarik dengan Indonesia.

“Kalau sudah mau eksplorasi saja sudah ada PNBP ini, PNBP itu. Tentu saja bukan hanya masalah besaran, tapi kondisi menjadi tidak nyaman. Seperti kita masuk ke hotel, tapi baru masuk sudah harus bayar ini, bayar itu. Jadi mending cari hotel yang lain. Oleh karena itu, di Kementerian ESDM sedang berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait masalah pajak dan lain-lain,” ujar Dwi dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII, Rabu (2/2/2022).

 

Lelang Blok Migas

Saat ini sendiri, pemerintah tengah menawarkan delapan blok migas untuk bisa dipinang oleh para investor dalam lelang blok migas tahap 2-2021.

Kedelapan wilayah kerja (WK) itu terdiri atas satu WK eksploitasi dengan mekanisme penawaran langsung, tiga WK eksplorasi dengan mekanisme penawaran langsung, dan 4 WK eksplorasi dengan mekanisme lelang reguler.

Pemerintah pun menawarkan sejumlah perbaikan, seperti memberikan fleksibilitas kontrak migas, perbaikan terms & conditions kontrak pada lelang blok migas baru dan blok existing, perbaikan pengelolaan dan akses data hulu migas, serta penyederhanaan perizinan.

Namun, pada saat yang sama Malaysia Petronas juga sedang mencari investor untuk 14 blok eksplorasi, enam klaster dengan peluang sumber daya alam yang ditemukan, serta satu aset yang berumur tua dalam Malaysia Bid Round (MBR) 2022.

Adapun, 14 blok eksplorasi yang ditawarkan berada di provinsi geologi produktif di cekungan Melayu, Sabah, dan Sarawak. Sebagian besar dari blok-blok itu berisi penemuan minyak dan gas yang ada, sehingga mempercepat kegiatan monetisasi.

Enam klaster peluang sumber daya yang ditemukan dan ditampilkan dalam MBR 2022 adalah Meranti, Ubah, Baram Jr., A, C, dan D. Sebagian besar klaster tersebut ada di perairan dangkal dan berada di sekitar infrastruktur produksi yang ada.

Selain itu, paket single late life assets yang mencakup klaster dari tiga ladang bernama Abu Cluster.

Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan, kegiatan eksplorasi migas sangat berisiko dengan rata-rata fase eksplorasi migas di Indonesia memerlukan waktu belasan tahun hingga akhirnya masuk ke tahap produksi.

Menurut dia, dengan kondisi global yang tidak menentu ini, investor atau perusahaan migas akan lebih fokus ke aset-aset produksinya dengan risiko yang kecil dan sudah memberikan cash flow positif.

Dia pun tidak menampik jika saat ini terdapat banyak pungutan resmi di Indonesia melalui penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan pungutan tidak resmi yang banyak terjadi di daerah. Namun, hal itu dinilai hanya sebagian dari masalah yang menghambat investasi di dalam negeri.

“Banyak hal yang berubah sejak 2001, Undang-Undang Migas, otonomi daerah. Perubahan ini, begitu juga kebijakan pemerintah beberapa tahun ini meningkatkan risiko di industri migas, insentif yang dikurangi, ketidakpastian yang meningkat,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (6/2/2022).

Senada, Pendiri Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan kegiatan eksplorasi memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi, sedangkan untuk kegiatan optimasi atau pemeliharaan produksi secara risiko sudah lebih rendah dan lebih dapat terkelola.

Dia berpendapat, lebih besaryna tren investasi untuk kegiatan produksi dikarenakan minimnya pemain-pemain baru di Industri hulu migas. Dengan begitu, kontraktor hanya fokus mengoperasikan atau memproduksikan aset yang sudah proven dikelolanya.

“Investasi di eksplorasi sebenarnya adalah indikator yang lebih tajam untuk menakar menarik tidaknya iklim investasi kita. Apabila investasi di eksplorasi tinggi atau porsinya besar, maka itu adalah indikator bahwa suatu wilayah atau negara dari sisi iklim investasi memang menarik, karena berarti untuk hal yang berisiko tinggi saja investor berminat. Demikian sebaliknya,” katanya.

Menurut Pri Agung, salah satu penyebabnya pungutan-pungutan yang dikenakan pemerintah terhadap kontraktor adalah berlakunya UU Migas Nomor 22/2001 yang menggunakan prinsip assume an discharge dalam hal pungutan dan pajak yang tidak lagi bisa diterapkan pada sistem kontrak yang ada.

Dia menerangkan, permasalahan itu telah menjadi pembahasan yang berlarut-larut tanpa adanya kejelasan penyelesaiannya melalui revisi UU Migas.

“Itu salah satu isu utama, tapi sudah lama, dan pemerintah juga sudah tahu itu sejak lama. Akar masalahnya ada di UU migas. Bukan isu baru,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

eksplorasi migas produksi migas investasi migas
Editor : Lili Sunardi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top