Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Awal Tahun, PMI Manufaktur Indonesia Ekspansif ke 53,7

Angka purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia menunjukkan perbaikan kondisi bisnis di seluruh sektor manufaktur Indonesia selama lima bulan berturut-turut.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 02 Februari 2022  |  08:47 WIB
Awal Tahun, PMI Manufaktur Indonesia Ekspansif ke 53,7
Pekerja menggergaji log kayu sengon menjadi menjadi produk papan sirap di sentra industri kayu olahan di Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (17/7/2021). - Antara Foto/Destyan Sujarwoko/nz
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Membuka 2022, purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia mencatatkan angka ekspansif 53,7 pada bulan pertama tahun ini, naik tipis dari posisi Desember 2021 di level 53,5.

Menurut data PMI IHS Markit, angka tersebut mewakili perbaikan kondisi bisnis di seluruh sektor manufaktur Indonesia selama lima bulan berturut-turut, dengan tingkat pemulihan terkuat  sejak November 2021.

Kondisi permintaan secara umum menguat, sebagian karena kenaikan penjualan asing yang mendukung peningkatan lebih tajam pada output manufaktur. Hal ini kemudian mendorong kenaikan aktivitas pembelian dan kenaikan tipis pada ketenagakerjaan.

Kenaikan permintaan barang buatan Indonesia pada bulan lalu menjadi yang tertinggi dalam tiga bulan, dengan pesanan ekspor mencatatkan angka rekor.  

"Permintaan klien berekspansi pada kisaran lebih tajam, didukung oleh catatan pertumbuhan permintaan baru dari luar negeri. Sementara itu, kenaikan tingkat ketenagakerjaan dan aktivitas pembelian juga terlihat, sekaligus menggambarkan kondisi ekonomi yang lebih baik," kata Jingyi Pan, Direktur Asosiasi Ekonom IHS Markit dalam keterangannya, Rabu (2/2/2022).

Waktu tunggu pengiriman pesanan sedikit membaik untuk pertama kalinya dalam dua tahun, meski penumpukan pekerjaan dan tekanan harga masih terjadi.

Di tengah kenaikan permintaan baru, perusahaan merekrut staf tambahan untuk menangani pertumbuhan kebutuhan produksi. Menurut panelis, aktivitas pembelian juga naik seiring kenaikan pekerjaan baru dan pertumbuhan permintaan yang diantisipasi.

Di sisi lain, meski keseluruhan sentimen bertahan positif pada Januari, tingkat optimisme jatuh ke posisi terendah dalam 20 bulan.

"Kepercayaan bisnis berkurang pada Januari, tetapi perusahaan masih bertahan positif tentang proyeksi produksi dalam 12 bulan. IHS Markit memperkirakan bahwa GDP Indonesia akan naik 4,9 persen pada 2022," kata Pan.
 
Akibat dari kenaikan aktivitas pembelian dan produksi, baik inventaris pra maupun pasca produksi mengalami ekspansi pada bulan lalu. Menurut bukti anekdotal, yang berkontribusi terhadap kenaikan stok barang jadi adalah penundaan pengiriman.

Namun demikian, keseluruhan kinerja vendor membaik untuk pertama kalinya sejak Januari 2020, meski hanya pada kisaran marjinal. Perusahaan mengaitkan perbaikan ini dengan kondisi transportasi domestik yang lebih baik.

Sementara itu, penumpukan pekerjaan terus meningkat pada Januari pada kisaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan data Desember. Responden survei menunjukkan bahwa kenaikan permintaan dan penundaan pengiriman menyebabkan pertumbuhan pekerjaan yang belum terselesaikan.

Dari segi harga, biaya input terus naik pada kisaran cepat meski laju inflasi berkurang dari puncak terkini pada Desember. Pelaku
manufaktur Indonesia menunjukkan bahwa kenaikan bahan baku dan biaya transportasi menyebabkan kenaikan harga input.

Sementara tekanan biaya input sedikit berkurang, inflasi harga output tetap solid dan sedikit berubah dari Desember 2021. Perusahaan secara umum berharap bahwa situasi Covid-19 akan terus membaik dan memungkinkan perekonomian terus bertumbuh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur Pertumbuhan Ekonomi pmi manufaktur
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top