Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tren Kenaikan Inflasi Diprediksi Berlanjut hingga Jelang Ramadan

Inflasi Januari 2022 diperkirakan akan mencapai kisaran 0,55 hingga 0,6 persen secara bulanan (year-on-year/yoy) atau 2,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 31 Januari 2022  |  16:32 WIB
Seorang pengunjung memilih minyak goreng kemasan di Supermarket GS, Mal Boxies123, Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/12/2021).  - Antara Foto/Arif Firmansyah/tom.\r\n
Seorang pengunjung memilih minyak goreng kemasan di Supermarket GS, Mal Boxies123, Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/12/2021). - Antara Foto/Arif Firmansyah/tom.\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Tren kenaikan inflasi yang tinggi diperkirakan akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperkirakan inflasi pada Januari 2022 akan mencapai kisaran 0,55 hingga 0,6 persen secara bulanan (year-on-year/yoy) atau 2,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Bhima mengatakan, meski inflasi pada Januari 2022 hanya 2 persen secara tahunan, namun capaian tersebut terbilang cukup tinggi jika dibandingkan dengan periode Januari 2021 yang hanya 1,58 persen yoy.

Menurutnya, sisi permintaan pada Januari 2022 biasanya rendah secara musiman. Apalagi, varian Omicron Covid-19 cukup berdampak ke kepercayaan masyarakat dalam berbelanja.

“Jika di Januari saja ada kenaikan harga maka tidak menutup kemungkinan 2-3 bulan ke depan inflasi akan lebih tinggi khususnya pada April saat Ramadan dimulai,” katanya kepada Bisnis, Senin (31/1/2022).

Bhima mengatakan, pada Januari 2022, kenaikan harga pangan masih menjadi faktor pendorong utama seperti naiknya harga minyak goreng yang belum bisa diselesaikan dengan kebijakan subsidi karena stok minyak goreng subsidi yang terbatas.

Selain itu, telur ayam, daging ayam ras, dan cabai rawit turut berdampak ke inflasi harga bergejolak atau volatile food yang lebih tinggi.

Menurut Bhima, perlu diperhatikan efek harga minyak dunia yang naik dan volatilitas nilai tukar, serta biaya logistik yang mahal untuk impor yang akan menyebabkan produsen menyesuaikan harga di level konsumen.

“Cepat atau lambat, biaya di sisi produsen akan diteruskan ke harga jual produk akhir khususnya elektronik, makanan minuman dan sparepart otomotif,” katanya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi harga pangan ramadhan
Editor : Azizah Nur Alfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top