Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Proyek Hilirisasi Batu Bara di Muara Enim Jadi Investasi Terbesar Kedua AS Selain Freeport

Investasi yang baru saja diresmikan di Muara Enim, Sumatera Selatan ini, berasal dari Air Products and Chemicals Inc. Proyek ini akan mendorong hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) atau gas layaknya gas LPG.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 24 Januari 2022  |  14:57 WIB
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan pers terkait pencabutan Izin Usaha Pertambangan (IUP), Hak Guna Usaha (HGU), dan Hak Guna Bangunan (HGB) terhadap sejumlah perusahaan di Kantor BKPM, Jakarta, Jumat (7/1/2022). ANTARA FOTO - Galih Pradipta
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan pers terkait pencabutan Izin Usaha Pertambangan (IUP), Hak Guna Usaha (HGU), dan Hak Guna Bangunan (HGB) terhadap sejumlah perusahaan di Kantor BKPM, Jakarta, Jumat (7/1/2022). ANTARA FOTO - Galih Pradipta

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut proyek hilirisasi batu bara di Sumatera Selatan yang baru saja diresmikan hari ini merupakan investasi terbesar kedua dari Amerika Serikat (AS), setelah PT Freeport Indonesia.

Adapun, investasi yang baru saja diresmikan di Muara Enim, Sumatera Selatan ini, berasal dari Air Products and Chemicals Inc. Proyek ini akan mendorong hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) atau gas layaknya gas LPG.

"Ini investasi cukup besar, Pak Presiden. Investasi kedua terbesar setelah Freeport untuk tahun ini," jelasnya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang juga hadir pada acara groundbreaking proyek hilirisasi batubara di Muara Enim, seperti yang dikutip dari YouTube Kementerian Investasi/BKPM, Senin (24/1/2022).

Bahlil menyebut realisasi dari kerja sama investasi Air Products and Chemicals, serta PT Bukit Asam dan PT Pertamina ini mencapai Rp33 triliun. Dia menyatakan bahwa pihaknya menargetkan realisasi penanaman modal ini kurang dari tiga tahun.

"Bapak Presiden, kami sampaikan bahwa realisasi investasi Rp33 triliun waktunya seharusnya 36 bulan. Tapi, kami rapat dengan dengan Air Products [and Chemicals] minta [dipercepat jadi] 30 bulan," tuturnya.

Investasi ini juga ditargetkan bisa menghasilkan hingga 13.000 lapangan pekerjaan dari sisi konstruksi atau sisi hulu, serta 12.000 lapangan pekerjaan di sisi hilir oleh PT Pertamina. Setelah mulai berjalan, proyek gasifikasi tersebut diperkirakan bisa menciptakan 3.000 lapangan pekerjaan tetap secara langsung.

Sementara itu, proyek ini juga diperkirakan bisa melibatkan secara tidak langsung tenaga kerja seperti kontraktor dan sub-kontraktor yang berjumlah hingga 3-4 kali lipat lebih banyak dari yang sudah ada.

Bahlil lalu menegaskan 95 persen dari tenaga kerja yang dipekerjakan dalam proyek ini adalah tenaga kerja asal Indonesia. Hal itu, kata Bahlil, telah disampaikan kepada pihak Air Products and Chemicals Inc.

"Ini lapangan pekerjaannya semuanya dari Indonesia. Air Products [and Chemicals] sudah saya panggil, tenaga kerjanya 95 persen dari Indonesia. Lima persennya itu hanya di masa konstruksi. Masa produksinya, nanti akan melibatkan PT Bukit Asam dan PT Pertamina," ujarnya.

Selain menciptakan nilai tambah komoditas, output dari proyek gasifikasi batu bara ini diharapkan mengurangi impor gas LPG. Bahlil menyebut impor gas LPG Indonesia setiap tahunnya bisa mencapai 6-7 juta ton secara rata-rata.

Oleh sebab itu, proyek hilirisasi batu bara ini ditargetkan bisa menghasilkan output Dimetil Eter (DME) 1,4 juta ton per tahunnya, atau setara dengan 1 juta ton LPG. Dengan begitu, hilirisasi bisa mendorong efisiensi belanja negara untuk subsidi sekitar Rp6 triliun sampai dengan Rp7 triliun.

"Jadi, tidak ada alasan lagi untuk kita tidak dukung hilirisasi untuk melahirkan substitusi impor," katanya.

Bahlil menceritakan bahwa total nilai investasi yang ditandatangani antara Indonesia dan Air Products and Chemicals Inc adalah senilai US$15 miliar atau Rp210 triliun. Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua pihak ditandatangani saat lawatan sejumlah pejabat pemerintahan ke Uni Emirat Arab, November 2021 lalu.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi amerika serikat Freeport hilirisasi bahlil lahadalia
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top