Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kondisi Belum Pasti, Investor Migas Belum Mau Agresif Tahun ini

Kondisi global yang masih penuh dengan ketidakpastian membuat para investor di sektor hulu minyak dan gas bumi enggan untuk agresif. Hal tersebut pun akan berdampak kepada capaian target produksi siap jual atau lifting migas di dalam negeri.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 11 Januari 2022  |  19:25 WIB
Platform migas lepas pantai. - Istimewa/SKK Migas
Platform migas lepas pantai. - Istimewa/SKK Migas

Bisnis.com, JAKARTA – Kondisi global yang masih penuh dengan ketidakpastian membuat para investor di sektor hulu minyak dan gas bumi enggan untuk agresif. Hal tersebut pun akan berdampak kepada capaian target produksi siap jual atau lifting migas di dalam negeri.

Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan, pihaknya berharap agar investasi pada tahun ini bisa lebih mudah guna meningkatkan produksi. Namun, untuk investasi ke lapangan-lapangan baru ataupun kegiatan eksplorasi dinilai masih cukup sulit dilakukan.

“Lebih ke kondisi global yang masih tidak pasti, namun di satu sisi iklim investasi migas Indonesia di luar dari pandemi ini memang masih lesu, perusahaan migas yang makin ketat menyeleksi portofolionya dan Indonesia mungkin kalah menarik dibandingkan dengan negara-negara lainnya," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (11/1/2022).

Kendati demikian, dia optimistis target lifting migas pada tahun ini masih bisa dicapai melalui kegiatan di lapangan-lapangan migas existing.

Pasalnya, kegiatan-kegiatan di lapangan existing masih dapat digenjot dengan peningkatan pengeboran sumur pengembangan dan enhanced oil recovery (EOR), serta workover.

“Saya optimistis target lifting tersebut bisa dicapai dengan lapangan produksi yang sudah ada,” jelasnya.

Sebelumnya, dalam pertemuan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dengan pimpinan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), target teknis KKKS masih di bawah target lifting yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, selain percepatan proses, masih ada kendala lain yang dihadapi KKKS di lapangan. Dwi menyampaikan masalah pertanahan dan perizinan adalah penyebab utama kegagalan operasi yang dialami para KKKS.

“Oleh karena itu, kegiatan pada 2022 juga akan ditambah kegiatan-kegiatan baru untuk mendukung upaya filling the gap sesuai target lifting 2022. Kami harapkan ini dapat disepakati dalam pembahasan WP&B 2022, sehingga setelah disetujui, kita semua dapat lebih fokus untuk mengimplementasikan program kerja yang telah disepakati bersama,” imbuhnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial mengatakan bahwa subsektor hulu migas diharapkan tidak hanya menjadi sumber penerimaan negara, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak ekonomi nasional.

Untuk itu, Kementerian ESDM bersama Kementerian Keuangan dan SKK Migas terus berupaya menciptakan iklim investasi yang menarik dan kompetitif.

“Kami berharap agar dukungan tersebut mendapat tanggapan positif dari KKKS, sehingga akan didapatkan peluang-peluang yang lebih besar untuk mengawal usaha-usaha peningkatan produksi, serta memberikan dampak perekonomian, baik lokal maupun nasional,” jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

skk migas investasi migas lifting migas perusahaan migas
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top