Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kunci Sukses Properti 2022, Value Harus Lebih Tinggi Dibandingkan Harga

Nilai properti harus lebih tinggi daripada harga barangnya sendiri. Itu menjadi salah satu kunci penting agar jualan properti pada 2022 semakin bergerak ke arah positif dibandingkan dengan tahun ini.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 18 Desember 2021  |  14:33 WIB
Kunci Sukses Properti 2022, Value Harus Lebih Tinggi Dibandingkan Harga
Ilustrasi pembangunan perumahan kelas menengah. - Bisnis
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan developer yang mengedepankan menjual properti dengan value (nilai) lebih tinggi daripada harga akan menuai hasil positif pada tahun depan, kata Direktur Utama One Property Ismet Natakarmana.

Menurut broker properti senior itu, sikap mengedepankan upaya menaikkan value lebih tinggi dibandingkan dengan harga sudah menjadi kebiasaan positif yang banyak diterapkan pengembang besar.

Dia mengingatkan developer menengah atau kecil sebaiknya juga menerapkan langkah seperti itu, tidak ragu untuk memberi nilai tambah pada produk mereka seperti smart home atau lingkungan hijau berupa taman danlainnya, agar value properti mereka lebih tinggi dibandingkan dengan harga barangnya.

Ismet mengemukakan banyak praktisi bisnis properti yang optimistis bahwa kondisi 2022 lebih baik daripada 2021. “Asal pandemi jangan datang lagi. Sekarang penjualan mulai merangkak naik. Namun, yang penting jualannya tetap dengan mengedepankan value lebih tinggi dibandingkan dengan harga.”

Sayangnya, menurut  dia, banyak developer kecil yang ragu-ragu untuk menerapkan prinsip properti mereka harus memberikan nilai lebih tinggi daripada harga. Kalau itu berkelanjutan, kelangsungan developer itu bisa berada dalam posisi yang berbahaya.

“Itu yang membuat developer besar semakin besar, sedangkan developer kecil jadi seperti kalah perang,” tutur lelaki berusia 60 tahun itu dalam perbincangannya dengan Bisnis.com pada Minggu (18/12/2021)..

Dia memahami ada keraguan bagi developer kecil kalau harus memberi nilai tambah produk properti mereka, apakah memang pada akhirnya akan laku terjual.

“Ada pemikiran di developer kecil, dalam kondisi begini [ekonomi sulit akibat pandemi], jangan keluar dana besar dulu. Mereka khawatir sudah keluar anggaran untuk membuat taman misalnya, tetapi kemudian tidak laku. Beda dengan developer besar, mereka yakin proyek mereka akan laku.”

Namun, pemikiran demikian yang pada akhirnya membuat nilai properti yang mereka bangun setara saja dengan harga barangnya. “Kalau go basic, value sama dengan harga, jualannya sulit.”

Mengenai kuatnya keinginan praktisi dan pengamat bisnis properti serta perbankan penyalur kredit pemilikan rumah (KPR) agar insentif Pajak Pertambahan Nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) diperpanjang, hal itu bermanfaat untuk penjualan hunian ready stock, dengan catatan developer juga semestinya menaikkan nilai properti mereka agar jualannya makin kencang. “Jadi, properti ready stock mereka itu bukan menjadi barang mati.”

Stimulus PPN itu berupa pemberian fasiloitas PPN DTP sebesar 100 persen untuk hunian tapak dan vertikal serta ruko dan rukan ready stock dengan harga maksimal Rp2 miliar serta PPN DTP 50 persen untuk yang ditransaksikan dengan harga Rp2 miliar hingga Rp5 miliar.

Namun, Ismet menyatakan kalau pun pemerintah memutuskan untuk tidak memperpanjang stimulus tersebut, bukan berarti bisnis properti akan goyah. “Yang jual properti dengan harga tinggi juga laku, asalkan memberi value lebih tinggi daripada harga barangnya.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti perumahan
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top