Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produsen Serat dan Benang Minat Ekspor ke Turki Lewat Imbal Dagang

Turki menjadi pangsa untuk 10 persen ekspor serat dan benang filament.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 17 Desember 2021  |  14:07 WIB
Proses texturizing di fasilitas produksi PT Trisula Textile Industries Tbk. Dalam tahap ini, benang-benang filament diproses dengan temperatur dan tekanan tertentusehingga menghasilkan efek keriting, ketebalan yang elastis, dan mempunyai crimp yang tinggi. - trisulatextile.com
Proses texturizing di fasilitas produksi PT Trisula Textile Industries Tbk. Dalam tahap ini, benang-benang filament diproses dengan temperatur dan tekanan tertentusehingga menghasilkan efek keriting, ketebalan yang elastis, dan mempunyai crimp yang tinggi. - trisulatextile.com

Bisnis.com, JAKARTA – Produsen serat dan benang menyatakan minat untuk menjajal skema imbal dagang dalam perdagangan produk tersebut. Imbal dagang dinilai sebagai alternatif untuk penetrasi pasar di tengah hambatan dagang yang diterapkan di negara tujuan.

Produk serat seperti staple fibers of viscose rayon dan benang tunggal atau single yarn menjadi segelintir produk tekstil yang ditawarkan Indonesia dalam kesepakatan imbal dagang dengan Turki, salah satu mitra dagang utama RI.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wiraswasta mengatakan Turki merupakan salah satu tujuan ekspor penting bagi produk serat dan benang sintetis.

“Memang Turki adalah pasar yang penting bagi serat dan benang sintetis kita. Kalau memang skema imbal dagang dimungkinkan, kami sangat beminat menjajakinya,” kata Redma, Kamis (16/12/2021).

Redma mengatakan Turki menjadi pangsa untuk 10 persen ekspor serat dan benang filament. Imbal dagang menjadi alternatif mengingat beberapa produk serat RI diganjar bea masuk antidumping (BMAD) di negara tersebut.

“Kalau pakai skema biasa ekspor terhambat pengenaan BMAD,” katanya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor filamen buatan dalam kode HS 54 ke Turki mencapai US$95,94 juta pada 2019, lalu turun menjadi US$41,59 juta pada 2020. Adapun sampai Oktober 2021, ekspor filamen buatan ke Turki bernilai US$25,40 juta.

Ekspor untuk serat stapel dalam kode HS 55 juga memperlihatkan fluktuasi. Ekspor pernah menyentuh US$365,62 juta pada 2019 dan kemudian turun pada 2020 menjadi 169,60 juta. Tetapi, ekspor kembali naik menjadi US$227,35 juta per Oktober 2021.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor turki Industri Tekstil Perjanjian Dagang
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top