Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Omicron Menyebar, IMF Bakal Koreksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2022

Kemunculan omicron menjadi akar dari masalah, ditambah kemampuan satu negara dengan yang lain untuk pulih sangat berbeda.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 05 Desember 2021  |  10:13 WIB
Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva dalam konferensi pers virtual Spring Meetings 2020 -  Bloomberg / Andrew Harrer
Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva dalam konferensi pers virtual Spring Meetings 2020 - Bloomberg / Andrew Harrer

Bisnis.com, JAKARTA - Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva bakal memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2022 seiring dengan peningkatan kasus strain baru omicron.

Georgiva mengatakan kemunculan omicron menjadi akar dari masalah, ditambah kemampuan satu negara dengan yang lain untuk pulih sangat berbeda.

"Sepertinya kami akan melihat penurunan pada proyeksi [yang dirilis] Oktober untuk pertumbuhan global. [Strain virus corona yang baru] sangat cepat bisa mengurangi kepercayaan diri," kata Georgiva dalam konferensi pada Jumat seperti dikutip Bloomberg pada Minggu (5/12/2021).

Perlu diketahui, IMF merilis proyeksi pertumbuhan ekonomi global per Oktober mencapai 4,9 persen pada 2022. Sebelum itu, badan pendanaan yang berbasis di Washington ini juga telah memangkas prospeknya pada tahun ini menjadi 5,9 persen.

"[Sementara itu], permasalahan baru juga muncul di hadapan pembuat kebijakan, khususnya inflasi," lanjut Georgiva.

Dalam pertemuan pada Kamis, Georgiva mengungkapkan kekhwatirannya terhadap kemampuan membayar utang, terutama bagi negara berpendapatan rendah yang disebut 60 persen di antaranya tengah menghadapi risiko tinggi dan kesulitan membayar utang.

"2022 akan menjadi tahun yang penuh dengan tekanan dalam kaitannya dengan utang," ungkapnya.

Pada Mei 2020, G20 telah menyiapkan bantuan kepada negara miskin dengan menangguhkan pembayaran utang atau disebut Debt Service Suspension Initiative (DSSI) yang terdampak pandemi.

Dengan berakhirnya DSSI pada akhir tahun ini dan suku bunga bersiap untuk naik, Georgieva mengatakan negara-negara perlu mempertimbangkan alternatif kerangka kerja semacam Paris Club atau kumpulan kreditur untuk mengatur ulang pinjaman.

Namun, cara kerangka kerja tersebut tidak terlalu diminati oleh negara-negara. Sejak November 2020, hanya tiga negara seperti Ethiopia, Chad, dan Zambia yang telah mengajukan kemudahan pinjaman.

"Pesan saya kepada semuanya adalah jangan menunggu sampai akhirnya sudah terlambat. Itu akan lebih merugikan bagi anda. Negara-negara akan sangat menderita. Bertindaklah," kata Georgiva.

Dia juga mengatakan bahwa kerangka kerja ini nantinya tidak terbatas bagi negara miskin saja, tetapi juga ekonomi menengah.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global imf pertumbuhan ekonomi global

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top