Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemerintah Bakal Prioritaskan EBT dalam Ketahanan Energi Nasional

Pengembangan energi dari sumber energi baru dan terbarukan selaras dengan komitmen dunia dalam menekan laju pertumbuhan emisi gas rumah kaca.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 28 November 2021  |  15:55 WIB
Pengecekan rutin pembangkit listrik tenaga panas bumi milik PT. Pertamina Geothermal Energy - JIBI/Nurul Hidayat
Pengecekan rutin pembangkit listrik tenaga panas bumi milik PT. Pertamina Geothermal Energy - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Konsumsi energi dari sumber energi baru dan terbarukan (EBT) diperkirakan terus melonjak dalam beberapa dekade ke depan.

Proyeksi tersebut membuka ruang bagi Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan EBT sebagai prioritas utama guna meningkatkan ketahanan energi nasional jangka panjang.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan upaya itu juga selaras dengan komitmen dunia dalam menekan laju pertumbuhan emisi gas rumah kaca.

"Untuk menekan laju emisi, pemerintah telah menyusun Peta Jalan transisi energi menuju NZE, dengan strategi antara lain pengembangan utama EBT secara masif, mendorong penggunaan kendaraan listrik, dan pengembangan interkoneksi transmisi, dan smart grid," kata Arifin dalam seperti dikutip dalam keterangan resminya, Minggu (28/11/2021).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pentingnya menjaga pertumbuhan ekonomi berbasis pembangunan rendah karbon.

"Pertumbuhan ekonomi perlu dijaga dan hal ini menjadi momentum untuk melakukan transisi ekonomi hijau dengan memprioritaskan pembangunan rendah karbon yang inklusif dan berkeadilan," ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto menguraikan adanya penguatan indeks ketahanan energi nasional dari tahu ke tahun. Saat ini, indeks ketahanan energi nasional berada di angka 6,57 atau masuk kondisi tahan.

Menurut Djoko, Indonesia belum mencapai kategori sangat tahan karena aspek accessibility dan acceptability masih sangat kurang. Pemerintah terus berupaya membangun infrastruktur gas, program BBM satu harga, membangun SPBU kecil di daerah 3T. Sebaliknya, untuk aspek acceptability ini terkait dengan lingkungan.

Terkait aspek acceptability , Djoko menyampaikan pengembangan EBT di Indonesia pada 2020 baru 11,2 persen. Tetapi, angka itu sudah cukup meningkat dibandingkan dengan 2015 yang sebesar 4 persen.

"Kita menuju 23 persen pada 2025. Artinya kalau kita melakukan business as usual, mudah-mudahan ini bisa tercapai, dan di 2050 31 persen, kemudian di 2060 di mana kita punya target net zero emission, mudah-mudahan EBT sudah di atas 50 persen," ungkapnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi terbarukan ebt ketahanan energi
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top