Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Infrastruktur Sudah Laik, Ini Yang Perlu Diperhatikan Pengemudi di Jalan Tol

Jalan tol di Indonesia diklaim telah laik untuk dilintasi dan memenuhi standar yang berlaku dengan memperhatikan fatalitas ketika terjadinya kecelakaan.
Ilustrasi. Jalan Tol Pondok Aren-Serpong di Banten./ NusantaraInfrastructure.com
Ilustrasi. Jalan Tol Pondok Aren-Serpong di Banten./ NusantaraInfrastructure.com

Bisnis.com, JAKARTA – Jalan tol di Indonesia diklaim telah laik untuk dilintasi dan memenuhi standar yang berlaku dengan memperhatikan fatalitas ketika terjadinya kecelakaan.

Eko Reksodipuro, Direktur Training & Campaign Indonesia Road Safety Partnership, mengatakan bahwa setiap fasilitas yang diterapkan di jalan tol telah memperhatikan risiko fatalitas saat terjadi kecelakaan.

Hal itu membuat kelaikan infrastruktur jalan tol dipastikan telah memenuhi standar yang berlaku sebelum beroperasi dan dilintasi oleh masyarakat umum.

Dia mencontohkan, penggunaan pagar pembatas beton pada sisi jalan, atau pagar pemisah di jembatan bertujuan untuk memperkecil risiko kendaraan menyebrang ke jalur yang berlawanan.

“Kita harus sadar dengan batas kemampuan diri. Dari sisi pengemudi harus sadar dengan batas kemampuannya, karena setiap orang tidak punya kemampuan yang sama. Jadi ada awareness,” katanya melalui keterangan tertulis, Selasa (9/11/2021).

Eko menjelaskan, ada sejumlah faktor yang perlu diperhatikan pengemudi saat melaju di jalan tol, terutama lintasan panjang, seperti rute Jakarta–Surabaya.

“Kesalahan kecil di jalan tol dapat mengakibatkan kecelakaan fatal, bahkan dapat merenggut korban jiwa,” ujarnya.

Faktor paling utama, menurut Eko, pengemudi harus sadar akan batas kemampuannya. Mengemudi di jalan tol tidak sama dengan pembalap di sirkuit yang bebas melakukan manuver dengan kecepatan tinggi.

Jalur cepat, misalnya, bukan jalur untuk dilalui. Jalur itu hanya untuk mendahului, setelah menggunakannya pengemudi harus kembali ke lajur 2 atau 1.

Menurutnya, sering kali kebiasaan berkendara di tol dalam kota terbawa saat berkendara di tol luar kota, seperti pengemudi maunya paling depan sendiri atau cenderung enggan diserobot, sehingga nampak seperti selfish atau mau menang sendiri.

Tak jarang pengemudi juga mengalami euforia saat berkendara di luar kota dari dalam kota, sehingga overspeed.

“Padahal, berkendara dengan kecepatan 150 km/jam, sama dengan 150.000 meter/3.600 detik, sedangkan reaksi mata butuh 2 detik untuk mempersepsi dan bereaksi,” katanya.

Pada prinsipnya, kata Eko, menyusul secepat mungkin itu tidak berbahaya, asalkan pengemudi sadar untuk kembali ke lajur 2 ataupun 1.

Ia juga sangat tidak merekomendasikan untuk terus berada di lajur 3 lantaran akan mengganggu pengguna jalan lain dan berpotensi mengakibatkan kesalahan kecil yang dampaknya tidak dapat diprediksi.

“Ke depan tuh tiga detik, terus jangan bersebelahan, apalagi bersebelahan dengan kendaraan berat. Pengemudi harus bisa memutuskan mau menyusul atau tidak, jangan jalan berdampingan. Seperti PPKM saja, jadi di jalan raya kita juga harus social distancing,” ucapnya.

Menurut dia, pesatnya pembangunan infrastruktur, khususnya jalan tol belakangan kian memudahkan masyarakat dalam beraktivitas, terutama aktivitas yang mengharuskan masyarakat berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan waktu yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan melintasi jalur konvensional.

Menurut catatan, dengan melintasi Tol Trans-Jawa, pengemudi membutuhkan waktu hanya 9 jam 43 menit untuk menamatkan rute Jakarta–Surabaya dengan rata-rata kecepatan 60-100 km/jam.

Sementara itu, uji coba lain harus bersusah payah menempuh waktu 15 jam 41 menit untuk menuju lokasi yang sama melintasi jalur konvensional. Tentunya, dengan istirahat yang cukup di beberapa pusat pemberhentian.

Sayangnya, kata Eko, kemudahan yang ditawarkan jalan tol tidak dibarengi dengan kesadaran pengemudi akan pentingnya berbagai faktor yang kebanyakan dianggap sepele, di antaranya batas minimal kecepatan, dan imbauan untuk beristirahat di titik-titik tertentu untuk mengurangi masalah konsentrasi yang kebanyakan disebabkan oleh faktor kantuk yang menyerang.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Lili Sunardi
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper