Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perusahaan Produsen Minyak Dunia Pangkas Belanja Modal. Kenapa?

Exxon Mobil Corp., Royal Dutch Shell Plc dan Chevron Corp., telah mengkonfirmasi bahwa mereka akan membelanjakan profit mereka untuk buyback saham dan dividen.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 31 Oktober 2021  |  06:38 WIB
Kilang Minyak - Bloomberg
Kilang Minyak - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen minyak utama di dunia diperkirakan tidak akan membantu mengatasi kelangkaan energi di Eropa dan China pada musim dingin kali ini lantaran adanya pemangkasan belanja modal.

Dilansir Bloomberg pada Sabtu (30/10/2021), Exxon Mobil Corp., Royal Dutch Shell Plc dan Chevron Corp., telah mengkonfirmasi bahwa mereka akan membelanjakan profit mereka untuk buyback saham dan dividen. Adapun belanja modal akan naik pada tahun depan, tetapi dalam basis rendah.

Langkah itu dipilih setelah berkaca pada fenomena kelangkaan energi pada 2010, di mana penghasil energi AS meningkatkan belanja modal dan berakhir dengan pasokan yang berlebih dan pengeluaran yang tak terkendali.

Big Oil, enam perusahaan migas publik terbesar, lebih memilih menyerahkan kas mereka kepada pemegang saham yang juga masih merasakan imbal hasil yang jelek selama satu dekade terakhir.

“Belum lama ini [investor] dibuat cemas oleh harga yang jatuh sehingga tidak mengherankan mereka sedikit takut [mengeluarkan] belanja modal," kata Stewart Glickman, seorang analis di CFRA Research yang berbasis di New York. Menurutnya, investor terjebak pada dua hal, yakni investasi ESG atau Environmental, Social, and Governance dan keinginan untuk kembali mendapatkan uangnya.

Sebenarnya, produsen bisa saja memuaskan investor dan konsumen hanya dengan tidak meningkatkan pengeluaran untuk bahan bakar fosil. Namun, itu pertanda buruk bagi konsumen yang menginginkan lebih banyak pasokan.

Eropa dan Asia saat ini bersaing untuk mendapatkan gas alam, membuat harga melonjak. Sementara AS dan India telah meminta OPEC+ untuk memproduksi lebih banyak minyak. Selain itu, China telah meminta perusahaan milik negara untuk mengamankan pasokan energi dengan biaya berapa pun.

Chevron yang berbasis di California tetap menjaga belanja modal 20 persen di bawah tingkat sebelum Covid pada tahun depan sambil meningkatkan pembelian kembali saham.

Anggaran modal 2022 akan masuk pada kisaran terendah dari US$15 miliar-US$17 miliar, menurut Chief Financial Officer Pierre Breber, sekitar 60 persen di bawah level 2014.

"Seiring waktu sebagian besar kelebihan uang tunai akan kembali ke pemegang saham dalam bentuk dividen yang lebih tinggi dan pembelian kembali," katanya Jumat pada panggilan konferensi dengan para analis.

Sementara itu, Exxon menetapkan pengeluaran tahunan jangka panjang dalam kisaran US$20 miliar, turun lebih dari 30 persen dari sebelum pandemi.

Selanjutnya, hampir 15 persen dari anggaran Exxon akan digunakan untuk investasi rendah karbon, perubahan signifikan dari strategi sebelumnya.

"[Belanja pada energi bersih memberikan] opsi dan membangun ketahanan ke dalam rencana kami,” kata CEO Darren Woods.

Adapun, Shell mengungkapkan minggu ini bahwa perusahaan enggan membelanjakan uangnya untuk bisnis minyak tradisionalnya. Kurang dari setengah belanja modalnya akan digunakan untuk bisnis minyak, dengan sebagian besar diarahkan pada gas, energi terbarukan, dan listrik.

“Kami tidak akan menggandakan bahan bakar fosil,” kata CEO Shell Ben Van Beurden pekan ini.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi belanja modal minyak capex

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top