Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bauran Energi, Porsi Pembangkit EBT Tembus 12,77 Persen

Porsi pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia telah mencapai 12,77 persen hingga Agustus 2021. Bila ditambah dengan pemanfaatan bahan bakar nabati atau BBN, maka bauran EBT telah menembus 13,54 persen dari total bauran energi dalam negeri.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 21 Oktober 2021  |  18:27 WIB
Penampakan udara Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Sebira 400 kWp. - Dok. PLN Enjiniring
Penampakan udara Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Sebira 400 kWp. - Dok. PLN Enjiniring

Bisnis.com, JAKARTA – Porsi pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia telah mencapai 12,77 persen hingga Agustus 2021. Bila ditambah dengan pemanfaatan bahan bakar nabati atau BBN, maka bauran EBT telah menembus 13,54 persen dari total bauran energi dalam negeri.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana menjelaskan bahwa 12,77 persen bauran EBT hanya pada pembangkit listrik. Sementara itu, jika ditambahkan dengan pemanfaatan BBN seperti di biodiesel, maka bauran EBT telah 13,54 persen dari total bauran energi nasional.

“Bauran [EBT] sekarang adalah 13,54 persen,” katanya saat konferensi pers capaian kinerja kuartal III/2021 sektor ketenagalistrikan, Kamis (21/10/2021).

Dari total bauran energi, batu bara masih mendominasi bahan bakar pembangkit dalam negeri, yakni mencapai 65,59 persen. Kemudian gas 17,89 persen, panas bumi 5,64 persen, pembangkit hidro 6,72 persen, biomassa 0,19 persen, BBM+BBN 3,75 persen, dan EBT lainnya 0,22 persen.

Hingga kini, kapasitas terpasang pembangkit listrik mencapai 73,8 gigawatt (GW). Angka itu didominasi oleh PLN, yakni 43,6 GW atau 59,2 persen, IPP 28 persen atau 20,6 GW, PPU 5.012 MW atau 6,8 persen, pemerintah 55 MW atau 0,1 persen, serta kapasitas dari pemegang izin operasi mencapai 4.336 MW atau 5,9 persen.

Dari jenisnya, pembangkit listrik masih didominasi oleh PLTU sebesar 50 persen, PLTGU 17 persen, PLTG/MG 11 persen, PLTD 7 persen, PLTP 3 persen, PLTA/M/MH 9 persen, dan PLT EBT lainnya 3 persen.

Di sisi lain, pemerintah memastikan bahwa kondisi listrik dalam negeri mencukupi. Selain itu, harga listrik juga tidak akan naik hingga akhir 2021. Rida pun menyebut, sektor ketenagalistrikan dari sisi pasokan lebih dari cukup.

“Yang pasti, sekarang kondisi listrik lebih dari cukup saat ini. Kemudian dikhususkan sampai akhir tahun tidak ada kenaikan atau perubahan tarif,” terangnya.

Sejauh ini, kondisi sistem kelistrikan pengusahaan PLN cukup aman. Kementerian ESDM mencatat daya mampu listrik dalam negeri mencapai 42,05 GW dengan beban puncak pada 37,47 GW. Alhasil, masih terdapat cadangan 4,58 GW atau sekitar 12,22 persen dari daya mampu.

Sementara itu, pemerintah menargetkan bauran bersih atau EBT pada 2025 mencapai 23 persen. Artinya, pemerintah perlu meningkatkan bauran energi terbarukan sekitar 10 persen dalam empat tahun ke depan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi baru terbarukan bauran energi
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top