Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Permintaan Listrik yang Tidak Sesuai Harapan Bikin Pembangunan Pembangkit Bermasalah

PT PLN Persero melanjutkan proyek sejumlah pembangkit listrik bermasalah di masa lalu. Targetnya, seluruh pembangkit listrik itu akan commercial operation date (COD) paling lambat pada 2029.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 15 Oktober 2021  |  14:31 WIB
Ilustrasi. Pekerja berkomunikasi dengan operator alat berat pada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lontar Extension 1x315 MW di Desa Lontar, Tangerang, Banten, Jumat (29/3/2019). - ANTARA/Muhammad Iqbal
Ilustrasi. Pekerja berkomunikasi dengan operator alat berat pada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lontar Extension 1x315 MW di Desa Lontar, Tangerang, Banten, Jumat (29/3/2019). - ANTARA/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA – PT PLN Persero melanjutkan proyek sejumlah pembangkit listrik bermasalah di masa lalu. Targetnya, seluruh pembangkit listrik itu akan commercial operation date (COD) paling lambat pada 2029.

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril mengutarakan bahwa kendala dalam penyelesaian sejumlah proyek pembangkit listrik tersebut disebabkan oleh permintaan listrik di lokasi pembangunan tidak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan.

“Penyesuaian demand dan supply, di mana demand kita tidak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan,” katanya kepada Bisnis, Selasa (12/10/2021).

Perseroan, kata dia, akan menyesuaikan pengadaan proyek pembangkit dengan pasokan energi primer potensial di daerah setempat, dan kebutuhan untuk keandalan operasi.

PLN mendata, setidaknya ada 34 pembangkit listrik yang masuk dalam proyek terkendala. Mayoritas atau 31 pembangkit merupakan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), dan sisanya merupakan pembangkit listrik tenaga minihidro. Total dari seluruh pembangkit itu mencapai 525 megawatt (MW).

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021–2030 menerangkan bahwa pemerintah sempat membangun infrastruktur ketenagalistrikan, berupa pembangkit transmisi dan gardu induk.

Proyek tersebut dilaksanakan pada tahun anggaran 2011–2023 dan 2013–2015. Dalam pelaksanaannya, beberapa proyek mengalami kendala di lapangan.

Sejumlah persoalan yang mengemuka antara lain masalah pembebasan lahan, relokasi, rencana tata ruang wilayah (RTRW), serta kemampuan kontraktor dalam menyelesaikan proyek.

Meski begitu, proyek itu tetap dilanjutkan setelah memperhatikan infrastruktur ketenagalistrikan masih dibutuhkan oleh sistem tenaga listrik setempat.

“Maka PLN tetap akan melanjutkan proyek tersebut sampai selesai,” tulis keterangan dalam RUPTL.

Terkait kemampuan kontraktor dalam proyek ini, PLN telah meminta bantuan kepada Badan Pengawas Keuangan Dan Pembangunan (BPKP) untuk memastikan keberlanjutan proyek yang mengalami kendala.

Apabila berdasarkan hasil audit BPKP menyebut proyek tersebut harus diterminasi, maka PLN akan membangun jaringan transmisi dan gardu induk atau dengan pembangunan pembangkit lain.

Di sisi lain, Bob menyebutkan bahwa RUPTL kali ini lebih green, sehingga banyak pembangkit yang diubah menjadi pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan.

“RUPTL sekarang menjadi lebih green, sehingga banyak diubah menjadi pembangkit yang menggunakan energi baru terbarukan,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN pembangkit listrik
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top