Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata, Restrukturisasi Garuda Indonesia (GIAA) Harus Tuntas

Efektivitas pembentukan holding Badan usaha Milik Negara (BUMN) Pariwisata dan Pendukung terletak pada keberhasilan restrukturisasi yang tengah dilakukan oleh PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) sebagai salah satu anggotanya.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 05 Oktober 2021  |  15:06 WIB
rnrnDokumentasi. Pekerja melakukan pengecekan akhir livery masker pesawat yang terpilih sebagai pemenang, sebelum peluncuran pesawat Garuda Indonesia Boing 737-800 NG bercorak khusus yang menampilkan visual masker bertema
rnrnDokumentasi. Pekerja melakukan pengecekan akhir livery masker pesawat yang terpilih sebagai pemenang, sebelum peluncuran pesawat Garuda Indonesia Boing 737-800 NG bercorak khusus yang menampilkan visual masker bertema "Indonesia Pride" pada bagian moncong pesawat di Hanggar GMF AeroAsia Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA – Efektivitas pembentukan holding Badan usaha Milik Negara (BUMN) Pariwisata dan Pendukung terletak pada keberhasilan restrukturisasi yang tengah dilakukan oleh PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) sebagai salah satu anggotanya.

Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan bahwa Garuda Indonesia harus menyelesaikan restrukturisasinya terlebih dahulu sebelum bergabung dengan holding BUMN Pariwisata dan Pendukung.

Hal itu dilakukan agar tidak muncul persoalan yang bisa mengganggu pencapaian target dari pembentukan holding itu sendiri.

“Tentunya tantangan holding ini adalah bagaimana menyelesaikan restrukturisasi di Garuda. Jangan sampai penyelesaian yang tidak tuntas akan menyebabkan masalah di holding aviasi-pariwisata ini,” ujarnya, Selasa (5/10/2021).

Dia menuturkan pembentukan jajaran komisaris dan direksi di PT Aviasi Pariwisata (Persero) atau Aviata yang berperan sebagai holding merupakan upaya mempercepat sinergi layanan jasa turis, transportasi udara, dan industri pendukung lainnya dalam satu kelompok.

Dengan begitu, Indonesia dapat meningkatkan daya saing pariwisata dalam negeri untuk mendatangkan banyak wisatawan.

Pendekatan dengan strategi product bundling, katanya, dapat dilakukan dengan optimal melalui holding, sehingga tarif yang ditawarkan menjadi lebih kompetitif. Strategi tersebut penting untuk dilakukan dalam menghadapi kompetitor, seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Apalagi, Malaysia teralah terlebih dahulu mengambil inisiatif serupa dengan membentuk Malaysian Aviation Group (MAG) sejak 2020. Group tersebut menyatukan kelompok maskapai, pariwisata, dan industri pendukungnya ke dalam satu grup.

Sementara itu, Ketua I Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Suharto Abdul Majid mengatakan bahwa pembentukan holding tidak bisa bergantung kepada kondisi pandemi yang dialami saat ini.

Menurutnya, holding harus menyesuaikan strateginya dengan kebutuhan yang diperlukan oleh industri pariwisata Nasional.

Pembentukan holding, kata dia, akan sangat terkait dengan efisiensi dan strategi manajemen agar kinerja BUMN bisa berlipat.

Dia berpendapat, pembentukan holding sah-sah saja dilakukan sebagai salah satu strategi perusahaan negara.

Terlebih, dengan kontrol yang dilakukan oleh pemerintah, tanggung jawab dan transparansi kepada publik akan lebih terjamin karena melibatkan penggunaan anggaran negara.

“Kita harus kawal betul supaya tujuan holding ini meningkatkan kinerja dan value, dan kemudian efisiensi terlaksana. Jangan sampai melenceng dari tujuan. Harus dijalankan dengan profesional dan sehat, serta menghasilkan keuntungan bagi masyarakat,” katanya.

Kementerian BUMN menyampaikan bahwa landasan hukum dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP) tentang fungsi Aviata sebagai holding pariwisata sudah diterbitkan, sedangkan PP yang mengatur inbreng masih berproses.

“Terkait PP fungsi Aviata sebagai holding sudah terbit. PP inbreng sedang proses penandatanganan,” ujar Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo kepada Bisnis.com, Selasa (5/10/2021).

Dalam proses inbreng ini, dia juga menegaskan bahwa Garuda Indonesia sebagai salah satu anggota holding hanya akan masuk jika proses restrukturisasi yang dilakukannya berhasil.

Plt. Asisten Deputi Bidang Jasa Pariwisata dan Pendukung Kementerian BUMN Endra Gunawan mengatakan, penetapan jajaran direksi dan jajaran komisaris PT Aviasi Pariwisata Indonesia merupakan salah satu milestone dalam proses pembentukan holding BUMN Pariwisata dan Pendukung.

Untuk tahap pertama, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) menjadi pemimpin holding BUMN Pariwisata dan Pendukung yang beranggotakan PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), PT Hotel Indonesia Natour (Persero), PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero), serta PT Sarinah (Persero).

Nama Garuda Indonesia sebagai salah satu anggota holding belum masuk dalam daftar ini.

Aviata akan menjadi pemimpin dari Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung yang merupakan holding bersifat ekosistem untuk mengintegrasikan berbagai fungsi dalam menunjang sektor pariwisata.

Dia mengharapkan keberadaan Aviata sebagai pemimpin holding akan bermanfaat bagi seluruh pelaku di sektor pariwisata. Holding juga diharapkan menjadi motor penggerak sektor pariwisata guna memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata Garuda Indonesia holding bumn
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top