Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Aluminium Naik, Industri Minuman Ringan Kena Dampak Terbatas

Sebagaimana diketahui, harga aluminium melonjak hingga US$3.000 per ton di London Metal Exchange (LME), tertinggi dalam 13 tahun. Melansir Bloomberg, harga komoditas tersebut telah naik 14 persen dalam tiga minggu terakhir, dan 48 persen sepanjang tahun ini.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 14 September 2021  |  18:01 WIB
Deretan minuman ringan di satu gerai supermarket di Purwokerto, Jawa Tengah.  - Bisnis.com
Deretan minuman ringan di satu gerai supermarket di Purwokerto, Jawa Tengah. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan harga aluminium berdampak terbatas pada industri minuman ringan.

Ketua Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Triyono Pridjosoesilo mengatakan hal tersebut lantaran aluminium yang merupakan bahan material kemasan kaleng bukan unit penyimpanan stok (stock-keeping unit/SKU) yang utama bagi produsen.  

"Umumnya industri minuman siap saji banyak memakai kemasan plastik PET, kemasan karton dan juga cups," katanya kepada Bisnis, Selasa (14/9/2021).

Sementara itu, sampai akhir tahun, Triyono menargetkan pertumbuhan positif menyusul kontraksi volume produksi pada tahun lalu yang mencapai 20 persen. Adapun utilisasi industri saat ini sudah di angka 60–70 persen.

Momentum Natal dan tahun baru diharapkan dapat mengerek utilisasi menjadi 75 persen. Sementara itu, kinerja yang belum sepenuhnya pulih juga disebabkan  tak terpenuhinya ekspektasi peningkatan volume produksi pada periode Lebaran tahun ini.

Pasalnya, momentum hari raya saat itu masih diselimuti oleh pembatasan pergerakan. Pergerakan yang terbatas menekan daya beli sehingga membebani pemulihan. 

Sebagaimana diketahui, harga aluminium melonjak hingga US$3.000 per ton di London Metal Exchange (LME), tertinggi dalam 13 tahun. Melansir Bloomberg, harga komoditas tersebut telah naik 14 persen dalam tiga minggu terakhir, dan 48 persen sepanjang tahun ini.

Lonjakan harga disebabkan kemacetan pengapalan dan pemangkasan produksi di China yang tengah berupaya memenuhi tujuan pengurangan intensitas energi. 

Berbeda dengan industri kemasan minuman ringan, kenaikan harga aluminium berdampak signifikan pada sektor komponen otomotif. 

Hamdani Zulkarnaen Salim, Ketua Umum Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) mengatakan dalam rentang Januari–Agustus 2021, biaya produksi telah naik sekitar 30 persen karena lonjakan harga sejumlah material.

Terpisah, Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) Wan Fauzi mengatakan lonjakan harga material komponen otomotif telah mencapai 40 persen. Hal ini telah berdampak pada arus kas IKM. Beberapa di antaranya bahkan harus menyicil gaji karyawan guna mengamankan arus kas. 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur industri kemasan aluminium
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top