Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hakaaston Siap Gunakan Aspal Karet di Jalan Tol Trans Sumatra

PT Hakaaston, anak perusahaan PT Hutama Karya (Persero) mendorong penggunaan aspal karet dalam konstruksi jalan tol, meski pemerintah masih enggan untuk memanfaatkan bahan konstruksi alternatif itu.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 13 September 2021  |  15:13 WIB
Ilustrasi: Penggunaan aspal karet - westernpma.org
Ilustrasi: Penggunaan aspal karet - westernpma.org

Bisnis.com, JAKARTA – PT Hakaaston, anak perusahaan PT Hutama Karya (Persero) mendorong penggunaan aspal karet dalam konstruksi jalan tol, meski pemerintah masih enggan untuk memanfaatkan bahan konstruksi alternatif itu.

PT Hakaaston (HKA) menyatakan siap mendukung penggunaan aspal karet dalam konstruksi Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) dengan melakukan penelitian agar bisa menekan biaya produksinya di dalam negeri.

“Aspal karet masuk dalam spesifikasi aspal PG [Performance Grade] yang dipersyaratkan untuk lajur utama jalan tol. Sejalan dengan hal tersebut, HKA siap untuk mendukung produk aspal karet alam di proyek JTTS,” kata Sekretaris Perusahaan HKA Aditya Nur Rahadi kepada Bisnis, Senin (13/9/2021).

Aditya menyampaikan, penerbitan surat rekomendasi teknis terkait penerapan ruang bebas, perkerasan jalan, dan drainase di jalan tol dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menjadi legitimasi penggunaan aspal karet dalam konstruksi jalan tol.

Dalam rangka menekan biaya produksi, Aditya berujar, hasil penelitian yang dilakukan pihaknya adalah menggunakan teknologi produksi aspal karet dalam ukuran mikro sebagai ekstrak. Menurutnya, hal tersebut dapat menekan biaya logistik aspal karet ke tempat proyek.

Dengan kata lain, pengembangan teknologi aspal karet yang dilakukan HKA akan memperluas penggunaan aspal karet ke luar daerah produsen karet alam.

Seperti diketahui, penggunaan aspal karet sejauh ini terbatas pada Pulau Sumatra yang notabenenya sebagai wilayah produsen karet nasional.

Sebelumnya, Direktur Pembangunan Jalan Kementerian PUPR Herry Vaza mengatakan bahwa pihaknya sedang menunggu hasil penelitian Universitas Gadjah Mada terkait teknologi pengaspalan agar dapat menggunakan karet jenis Standard Indonesian Rubber (SIR) 20.

Adapun, teknologi tersebut akan menekan biaya produksi aspal karet yang selama ini menghambat penggunaan aspal karet.

Kementerian PUPR juga mencatat karet alam yang digunakan sebagai agregat aspal dalam konstruksi jalan hanya sekitar 6–20 persen. Namun demikian, biaya konstruksi dengan aspal karet terbilang tinggi lantaran jenis karet yang digunakan adalah lateks.

Seperti diketahui, mayoritas karet yang diproduksi oleh industri karet alam nasional adalah karet SIR 20. Sementara itu, kuantitas produksi karet lateks di dalam negeri masih minim, alhasil harga lateks pun jauh lebih mahal.

Lateks merupakan karet dengan ketebalan paling tipis dan umum digunakan sebagai bahan baku sarung tangan karet medis, sedangkan karet SIR 20 merupakan bahan baku dari produksi ban.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hutama karya Kementerian PUPR aspal karet
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top