Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bendungan Bendo Diresmikan, Produktivitas Pertanian Sekitar Diramal Melonjak

Pengoperasian Bendungan Bendo yang baru diresmikan oleh Presiden Joko Widodo diproyeksikan mampu meningkatkan angka indeks pertanian (IP) di Desa Nginden, Kabupaten Ponorogo, hingga lebih dari 50 persen.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 07 September 2021  |  14:37 WIB
Proyek pembangunan Bendungan Bendo di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Jumat (4/1/2019). - Bisnis/Amanda Kusumawardhani
Proyek pembangunan Bendungan Bendo di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Jumat (4/1/2019). - Bisnis/Amanda Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Pengoperasian Bendungan Bendo yang baru diresmikan oleh Presiden Joko Widodo diproyeksikan mampu meningkatkan angka indeks pertanian (IP) di Desa Nginden, Kabupaten Ponorogo, hingga lebih dari 50 persen.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan bahwa Bendungan Bendo akan memasok empat bendung lain yang menjadi sumber air irigasi di Ponorogo. Angka IP di Ponorogo pun dapat meningkat sekitar 52,94 persen saat Bendungan Bendo beroperasi.

“Dengan adanya storage [air untuk empat bendung] ini, [air baku untuk irigasi] bisa langsung dimanfaatkan, sehingga meningkatkan IP dari 170 menjadi 260 per tahun,” kata Menteri PUPR saat peresmian Bendungan Bendo, Selasa (7/9/2021).

Basuki mengatakan, peningkatan IP tersebut membuat pertanian di Daerah Irigasi (DI) Nginden lebih produktif. Selain itu, siklus tanam juga dapat berubah menjadi padi-padi-palawija dari sebelumnya padi-palawija-palawija.

Basuki berujar, Bendungan Bendo memiliki kapasitas tampung hingga 43,11 juta meter kubik. Adapun, salah satu manfaat bendungan tersebut adalah menyediakan air baku untuk DI seluas 7.830 hektare.

Secara rinci, Bendungan Bendo akan memasok air baku untuk empat bendung, yakni Bendung Nginden, Bendung Kori, Bendung Wirangan, dan Bendung Jati.

Dia menjelaskan, Bendung Jati akan menyediakan air baku bagi lahan pertanian seluas 4.500 hektare di Magetan, sedangkan tiga bendung lainnya akan mengairi lahan sekitar 3.330 hektare di Ponorogo.

Selain itu, Bendungan Bendo juga dirancang untuk mereduksi debit banjir sebanyak 31 persen atau 117,4 liter per detik (lpd), menyediakan air baku hingga 370 lpd, dan menghasilkan energi sekitar 1,56 megawatt. Di samping itu, bendungan tersebut juga akan diarahkan sebagai destinasi wisata.

“Bapak Bupati [Ponorogo] mau ini [Bendungan Bendo] jadi daerah wisata. Sekarang ini baru 15 persen [dari total kapasitas air baku yang terisi], kalau sudah penuh [Bendungan Bendo] bisa jadi lebih bagus,” ucapnya.

Adapun, proses pengisian air atau impounding dilakukan dengan menahan arus Sungai Keyang yang merupakan anak sungai Bengawan Madiun. Total luas genangan Bendungan Bendo diperkirakan mencapai 170 hektare.

Bendungan setinggi 71 meter tersebut telah selesai dilelang pada 2013, namun proses konstruksi baru dapat dimulai pada 2016. Dengan kata lain, proses konstruksi berlangsung sekitar 5 tahun, namun umur proyek tersebut mencapai 8 tahun.

Konstruksi Bendungan Bendo telah menelan anggaran negara sekitar Rp1,1 triliun. Adapun, kontraktor yang membangun bendungan tersebut adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., PT Hutama Karya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bendungan Kementerian PUPR
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top