Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Target Subtitusi Impor 35 Persen dari Kemenperin Butuh Dukungan Ekstra

Apindo memandang target subtitusi impor 35 persen perlu dukungan ekstra karena ini bukan hanya soal normalisasi kinerja industri tetapi peningkatan daya saing produk nasional terhadap produk impor.
Ipak Ayu
Ipak Ayu - Bisnis.com 30 Agustus 2021  |  08:46 WIB
Target Subtitusi Impor 35 Persen dari Kemenperin Butuh Dukungan Ekstra
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Pengusaha menyebut kebijakan subtitusi impor 35 persen pada 2022 yang dicanangkan Kementerian Perindustrian perlu mendapat dukungan ekstra karena akan menyangkut pada dampak besar yakni peningkatan daya saing produk nasional.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan tahun depan pandemi masih menjadi faktor penyebab ketidakpastian pertumbuhan usaha.

Alhasil, selama pemerintah bisa memastikan pengendalian pandemi dan normalisasi ekonomi berjalan lancar dan tidak terdistrupsi seperti saat ini, pelaku usaha juga optimistis pertumbuhan industri bisa maksimal.

"Namun, untuk mencapai target subtitusi impor 35 persen kami rasa perlu support ekstra karena faktor-faktor yang bermain di sini bukan hanya normalisasi kinerja industri tetapi peningkatan daya saing produk nasional terhadap produk impor," katanya kepada Bisnis, Minggu (29/8/2021).

Shinta menyebut banyak faktor yang harus dibenahi di dalam negeri untuk menciptakan subtitusi impor yang alami. Antara lain, faktor kesiapan industrinya, di mana ada syarat yang harus dipenuhi yakni produk subtitusi tersebut harus sudah ada industrinya di dalam negeri.

Faktor lain, lanjut Shinta, kecocokan supply chain yakni output industri hulu harus cocok dengan kebutuhan input industri hilirnya atau pembenahan domestic supply chain mismatch. Kemudian, faktor daya saing pasokan dalam negeri, yaknu produk dalam negeri harus comparable dengan impor dari segi kualitas dan harga perolehan bagi industri pemakai.

"Juga faktor economic scale atau sejauh mana supply dalam negeri bisa meng-supply seluruh kebutuhan industri hilirnya. Kalau economic scale industri hulu sangat terbatas sementara industri hilirnya kebutuhan industri hilirnya sangat besar, tentu yang bisa dilakukan hanya diversifikasi supply bukan subtitusi impor," ujar Shinta.

Sementara itu, dia melanjutkan pemerintah juga harus memastikan bahwa industri betul-betul dipersiapkan lebih bersaing secara riil di pasar dalam negeri dan asing secara holistik.

Artinya, kata Shinta, bukan hanya menciptakan kebijakan yang mendukung penyerapan produk dalam negeri tetapi nantinya malah menurunkan daya saing produk-produk industri yang saat ini sudah bersaing di pasar nasional dan global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor apindo kemenperin
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top