Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ada Perbedaan Data Kinerja Industri Farmasi

Berdasarkan data BPS, industri farmasi disebut mengalami pemulihan, tetapi Pharma Materials Management Club (PMMC) merasakan hal yang sebaliknya.
Ipak Ayu
Ipak Ayu - Bisnis.com 25 Agustus 2021  |  15:17 WIB
Ada Perbedaan Data Kinerja Industri Farmasi
Ilustrasi. Aktivitas di laboratorium farmasi. - Darya/Varia
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Industri farmasi menyebut hingga kuartal I/2021 kinerja masih terpantau minus 12,6 persen. Hal itu sesuai dengan data IQVIA yang selama ini dijadikan acuan industri dalam menyusun kinerja.

Ketua Umum Pharma Materials Management Club (PMMC) Kendrariadi Suhanda mengatakan penurunan paling dalam terjadi pada obat resep branded 14,3 persen untuk produksi lokal dan 13,7 persen untuk merk luar. Artinya, secara rerata pada segmen ini terjadi penurunan 14 persen hingga tiga bulan pertama tahun ini.

Selanjutnya, Kendrariadi menyebut obat resep umum turun 13,1 persen, kemudian obat unbranded generic minus 9,2 persen, dan terakhir pada kategori obat bebas atau tanpa resep minus 10,4 persen.

"Memang jika dibandingkan dengan berbagai data publik selama ini sangat berbeda karena kami sudah dianggap sektor yang mengalami pemulihan padahal kami tidak merasa begitu. Farmasi bahkan jyga diproyeksikan akan tumbuh double digit atau di atas 10 persen tahun ini," katanya dalam webinar, Rabu (25/8/2021).

Kendrariadi menyebut tentunya pertumbuhan tinggi tersebut juga menjadi harapan para pelaku industri farmasi saat ini. Untuk itu, dia mengharapkan agar tercapai pertumbuhan yang diharapan, industri membutuhkan adanya kerjasama seluruh pihak.

Menurut Kendrariadi, jika menuju akhir tahun ini penyerapan obat lebih baik maka setidaknya akan mengurangi minus-minus yang sudah terjadi pada awal tahun ini.

"Sekarang kondisi industri itu harus efisien, kalau dulu merdeka atau mati sekarang efisien atau mati supaya tetap dapat memberi sumbangsih pada kinerja industri secara keseluruhan di Indonesia," ujarnya.

Adapun mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal II/2021 sektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 9,15 persen. BPS bahkan menyebut khusus farmasi dan obat tradisional saja per kuartal II/2021 tumbuh 15,06 persen karena adanya peningkatan produksi obat-obatan untuk memenuhi permintaan domestik dalam menghadapi Covid-19.

Sementara jika masih mengacu proyeksi IQVIA farmasi diperkirakan belum akan positif tahun ini atau minus 1,9 persen. Adapun tahun lalu, pertumbuhan industri farmasi hanya didorong oleh produk berkaitan dengan imunomodulator, sedangkan serapan obat di luar Covid-19 tercatat minus hingga 11 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur farmasi
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top