Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pembukaan Bertahap Pusat Belanja Bisa Berdampak ke Penjualan Ritel

Mal atau pusat belanja di kawasan dengan status PPKM level 4 selain DKI Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya, masih belum dibuka.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 13 Agustus 2021  |  14:48 WIB
Pembukaan Bertahap Pusat Belanja Bisa Berdampak ke Penjualan Ritel
rnPedagang merapikan barang dagangan di pusat perbelanjaan Jakarta, Rabu (4/8/2021). Pemprov DKI Jakarta menegaskan pusat perbelanjaan atau mal masih belum boleh beroperasi selama penyesuaian aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 kecuali akses untuk pegawai toko yang melayani penjualan online dengan maksimal tiga orang setiap toko. ANTARA FOTO - Galih Pradipta\\r\\n
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perdagangan memperkirakan kebijakan uji coba pembukaan pusat perbelanjaan selama PPKM level 4 di sejumlah kota di Jawa bisa berpengaruh terhadap kinerja penjualan eceran.

Selama uji coba sepekan ini, pusat perbelanjaan dan ritel nonpangan bisa beroperasi setelah 5 minggu terakhir tutup.

“Pengaruh pasti ada karena PPKM berlanjut dan ritel baru dibuka mulai 10 Agustus di mana sifatnya uji coba,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Jumat (13/8/2021).

Oke mengatakan tingkat kunjungan juga cenderung terbatas karena kapasitas maksimal pengunjung hanya 25 persen dan hanya diterapkan di 4 kota besar dengan status PPKM level 4. Sementara di kawasan dengan status PPKM level 4 selain DKI Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya, mal atau pusat belanja masih belum dibuka.

“Kalau melihat perkembangan tingkat kunjungan masih sangat rendah. Di bawah 25 persen dan hanya di kota-kota besar. Pasti akan berpengaruh ke penjualan ritel, tetapi angkanya belum diketahui,” tambahnya.

Bank Indonesia melaporkan indeks penjualan riil (IPR) pada Juni 2021 tumbuh 2,5 persen secara tahunan dan terkontraksi 12,8 persen secara bulanan. Hal ini menjadi indikasi bahwa penjualan eceran pada Juni terbatas dibandingkan dengan Mei 2021 sebagai imbas dari penurunan permintaan masyarakat setelah hari besar keagamaan nasional Idulfitri.

Untuk Juli 2021, responden yang disurvei Bank Indonesia memprediksi penjualan eceran tetap akan menurun meski melambat, yakni sebesar 8,3 persen secara bulanan.

Namun, penjualan eceran secara diramal turun 6,2 persen secara tahunan, terutama pada kelompok peralatan komunikasi dan informasi, barang budaya dan rekreasi, dan subkelompok sandang. 

Sejak pusat perbelanjaan mulai dibuka secara bertahap dengan kebijakan wajib vaksin bagi pengunjung, Oke menjelaskan pusat perbelanjaan berupaya disiplin menerapkan protokol kesehatan. Meski demikian, dia tidak memungkiri adanya pelanggaran minor dalam implementasi kebijakan.

“Ada [pelanggaran], tetapi karena kendala aplikasinya. Ada mal yang mengizinkan masuk berdasarkan sertifikat vaksin fisik karena belum terdaftar di aplikasi PeduliLindungi. Pelanggarannya masih minor,” kata Oke.

Dia mengatakan pelaksanaan pengecekan sertifikat vaksin bagi pengunjung telah berjalan tanpa kendala di Surabaya dan Bandung. Sementara di Jakarta dan Semarang masih ditemui laporan pengelola mal yang masih menghadapi kendala.

“Kami sedang melakukan evaluasi dan sedang melakukan beberapa peninjauan. Karena kebijakan baru diumumkan pada Senin malam dan implementasi mulai Selasa, pengelola mal masih harus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan terkait penggunaan barcode,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pusat perbelanjaan ritel modern PPKM
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top