Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Catatan untuk Wujudkan Kemandirian Alkes, 100 Persen Produksi?

Alkes dalam jangka panjang yang lebih dibutuhkan adalah yang memiliki teknologi tinggi.
Ipak Ayu
Ipak Ayu - Bisnis.com 11 Agustus 2021  |  20:41 WIB
Pelepasan Mobile Lab BSL-2. Alkes inovasi BPPT ini dilengkapi dengan aplikasi pantau Covid-19 (PC-19) yang memudahkan masyarakat untuk melakukan swab test, registrasi daring, serta mendapatkan jadwal waktu dan urutan untuk swab test.  - BPPT
Pelepasan Mobile Lab BSL-2. Alkes inovasi BPPT ini dilengkapi dengan aplikasi pantau Covid-19 (PC-19) yang memudahkan masyarakat untuk melakukan swab test, registrasi daring, serta mendapatkan jadwal waktu dan urutan untuk swab test. - BPPT

Bisnis.com, JAKARTA — Semangat kemandirian alat kesehatan atau alkes yang tengah digaungkan tentu perlu mendapat dukungan penuh. Namun, kemandirian alkes tak melulu tentang memiliki ekosistem lengkap untuk sepenuhnya dapat berproduksi di sini.

Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Andree Surianta mengatakan pandemi yang membuat produsen alkes melejit saat ini sayanganya baru didorong oleh sejumlah produk alat pelindung diri (APD) dan masker.

Alhasil, hal itu hanya sebatas karena volume bisnis dan permainan harga saat ini. Sementara alkes dalam jangka panjang yang lebih dibutuhkan adalah yang memiliki teknologi tinggi.

"Kita [Indonesia] sudah ketinggalan dari Vietnam karena alkes merek bagus seperti Omron, assemble-nya sudah di Vietnam. Kita bisa seperti itu tidak perlu mengejar produksi 100 persen akan sulit," katanya kepada Bisnis, Rabu (11/8/2021).

Selain itu, Andree melanjutkan pengembangan kebijakan tingkat kandungan dalam negeri atau TKDN khusus alkes dan farmasi juga harus dilakukan secara hati-hati. Pasalnya, jika salah langkah yang terjadi Indonesia akan mengalami kelangkaan.

Hal itu mengingat struktur alkes di Indonesia saat ini 90 persen masih didatangkan dari impor. Untuk itu, kegiatan impor bukan hal yang perlu dikhawatirkan saat ini. Pasalnya, sembari impor pemerintah bisa melakukan identifikasi kekuatan yang dimiliki produsen dalam negeri.

"Jadi, kalau kita membuat mesin x-ray secara utuh di sini mungkin akan sulit, tetapi misal hanya tabung lampunya akan lebih mudah. Indonesia bisa memposisikan sebagai pemasok komponen tersebut secara global," ujarnya.

Andree juga menilai jangan sampai nantinya seperti produsen farmasi saat ini, yang meski 90 persen didominasi lokal tetapi tidak memiliki konten inovasi dan minim R&D. Alhasil, mayoritas produk-produk yang dihasilkan hanya obat generik.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur industri kesehatan alkes
Editor : M. Nurhadi Pratomo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top