Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Setelah China, Malaysia dan Jepang Mulai Tinggalkan Dolar AS

Penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dengan Jepang dan Malaysia tercatat tumbuh pesat.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 06 Agustus 2021  |  14:03 WIB
Karyawati salah satu bank memperlihatkan uang rupiah dan dolar di Jakarta, Kamis (29/4/2021). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati salah satu bank memperlihatkan uang rupiah dan dolar di Jakarta, Kamis (29/4/2021). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Penggunaan uang lokal dalam transaksi perdagangan atau local currency system (LCS) antara Indonesia dengan Malaysia dan Jepang meningkat sejak diluncurkan. Penggunaan mata uang lokal diperkirakan tetap berpeluang tumbuh ke depannya.

Kepala Departemen Internasional Bank Indonesia Doddy Zulverdi menjelaskan pertumbuhan rasio mata uang lokal dalam perdagangan dengan negara-negara tersebut cenderung tumbuh positif.

Sebagai contoh, rasio transaksi perdagangan skema LCS dengan Malaysia telah mencapai 2,8 persen pada Januari sampai Mei 2021. Sepanjang 2020, rasionya mencapai 4,1 persen dari total nilai perdagangan.

“Kalau kita lihat meski baru dua tahun dengan Malaysia, tren rasio meningkat terus. Memang agak turun nilai perdagangan dengan Malaysia karena pandemi sehingga otomatis penggunaan LCS berkurang,” kata Doddy dalam taklimat media secara daring, Jumat (6/8/2021).

Meski rasio mengalami penurunan pada lima bulan pertama, Doddy mengatakan bahwa pertumbuhan skema LCS tetap positif. Kesepakatan LCS dengan Malaysia telah terjalin sejak 2 Januari 2018 untuk settlement perdagangan.

“Namun ini sesuatu yang positif. Dari tidak ada penggunaan mata uang lokal dan pada 2020 rasio sudah mencapai 4,1 persen dari total perdagangan dengan Malaysia. Sudah 3 kali lipat dari posisi 2018 yang rasionya hanya 1,4 persen,” tambahnya.

Penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dengan Jepang juga tumbuh pesat, terlepas dari implementasinya yang baru dimulai pada September 2020. Doddy mengatakan rasio penggunaan yen atau rupiah telah mencapai 3,4 persen periode Januari sampai Mei 2021.

“Dengan Jepang juga baru 7 bulan dilaksanakan karena baru dimulai September 2020, dari nyaris tidak tidak angkanya 0,1 persen menjadi 3,4 persen dari total perdagangan dengan Jepang,” paparnya.

Bank Indonesia berharap transaksi LCS bisa meningkat seiring dengan berjalannya waktu, terlebih dengan penguatan kerangka pelaksanaan yang telah disepakati. Sebagai contoh, underlying transaksi telah diperluas sehingga mencakup perdagangan, investasi langsung, dan transfer pendapatan, termasuk remitansi.

“Kita akui angkanya masih kecil, tetapi trennya positif. Dengan langkah penguatan kita punya optimisme bahwa ini akan terus meningkat,” kata Doddy.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Departemen Pasar Keuangan BI Donny Hutabarat memaparkan nilai transaksi menggunakan uang lokal dengan Malaysia setara dengan US$48 juta setiap bulannya. Sementara dengan Jepang mencapai US$87 juta per bulan.

“Jepang awalnya hanya 0,27 persen dari total ekspor impor sekarang. Kalau pelaksanaan konsisten, ada komitmen dan dukungan bank pelaksana dan pelaku ekspor impor, maka bisa cepat berkembang. Ruang untuk berkembang masih tinggi,” katanya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang malaysia LCS (Local Currency Settlement)
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top