Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menuju Netral Karbon 2060, PLN Pertimbangkan Penerapan CCUS di PLTU

Inovasi teknologi CCUS yang lebih ekonomis memungkinkan pemanfaatan PLTU tanpa menimbulkan peningkatan emisi gas rumah kaca.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 27 Juli 2021  |  07:34 WIB
PLTU Jawa 8 -  Istimewa / PLN
PLTU Jawa 8 - Istimewa / PLN

Menuju Netral Karbon 2060, PLN Pertimbangkan Penerapan CCUS di PLTU

Bisnis.com, JAKARTA—PT PLN (Persero) mempertimbangkan penerapan teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS) pada pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU agar dapat memenuhi target netral karbon di 2060.

Penerapan CCUS ini merupakan skenario lain yang disiapkan perseroan untuk menekan emisi karbon, selain melakukan phase out atau pemberhentian secara bertahap pengoperasian PLTU.

Inovasi teknologi CCUS yang lebih ekonomis memungkinkan pemanfaatan PLTU tanpa menimbulkan peningkatan emisi gas rumah kaca.

Direktur Perencanaan Korporat PLN Evy Haryadi mengatakan, kelayakan secara teknis dan ekonomi penerapan CCUS hingga saat ini memang masih menjadi tantangan.

Namun demikian, PLN telah menyiapkan skenario penerapannya dengan harapan dalam beberapa tahun ke depan teknologinya sudah semakin ekonomis.

“Lima belas tahun ke depan kami harapkan teknologi ini sudah bisa diterapkan yang ekonomis, sehingga jika ini dilakukan, kami hanya perlu pensiunkan 1 gigawatt dari pembangkit tua kami yang kami perkirakan 2030 sudah bisa dipensiunkan,” kata Evy dalam webinar Masa Depan Batu Bara dalam Bauran Energi Nasional, Senin malam (26/7/2021).

Dalam skenario tersebut, PLN memproyeksikan PLTU dapat beroperasi dengan menggunakan CCUS pada 2035. Selain itu, pembangkit listrik tenaga nuklir diperkirakan juga akan masuk ke dalam sistem PLN di 2040 untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan listrik yang besar.

Bila menggunakan skenario phase out PLTU, penggunaan batu bara diperkirakan akan mengalami penurunan cukup tajam setelah 2030.

Namun, jika menggunakan skenario penerapan CCUS, Evy menuturkan bahwa penggunaan batu bara bisa dipertahankan pada volume tertentu hingga 2060.

“Penggunaan batu bara akan tumbuh sampai 2030, tapi dengan CCUS yang kemudian bisa pertahankan penggunaan batu bara sekitar 150 Twh , kami pikir ini akan bisa flat sepanjang tahun sampai 2060. Tapi secara bauran energi akan turun, karena porsinya tetap akan banyak energi terbarukan yang digunakan,” katanya.

Sementara itu, PLN juga menyiapkan skenario phase out sekitar 50,1 gigawatt (GW) PLTU untuk menuju netral karbon 2060.

Dalam skenario itu, bila inovasi teknologi storage semakin murah memungkinkan penggantian PLTU dengan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) baseload.

Akan tetapi, menurut Evy, biaya pembangkitan listrik diratakan (levelized cost of electricity/LCOE) pembangkit EBT, seperti PLTS, hingga saat ini belum bisa mengalahkan LCOE PLTU yang sudah masuk ke dalam sistem kelistrikan.

“Teknologi PV sudah capai US$5 sen LCOE-nya dibandingkan dengan PLTU US$7 sen. Namun, ini jika kita bandingkan ketika ingin bangun baru. Ketika sudah masuk ke sistem, kita bandingkan marginal cost-nya di mana marginal cost batu bara saat ini US$3 sen, sekitar Rp300. Artinya, jika pembangkit baru, LCOE PLTS harus lebih rendah dari US$3 sen baru itu akan bisa kalahkan PLTU,” katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN pltu
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top