Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Target 1 Juta Barel Minyak Dinilai Sulit Tercapai pada 2030

Dengan waktu kurang dari 10 tahun lagi, Indonesia masih belum menemukan cadangan migas baru dalam skala besar.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 08 Juli 2021  |  19:36 WIB
Target 1 Juta Barel Minyak Dinilai Sulit Tercapai pada 2030
Pompa angguk milik Unit Bisnis Pertamina EP Sangasanga Tarakan di sumur minyak Juata, Tarakan, Kalimantan Timur. - JIBI
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Target pemerintah untuk mengembalikan posisi produksi minyak mentah menjadi 1 juta barel per hari pada 2030 dinilai akan sulit tercapai dengan cadangan minyak dan gas bumi (migas) yang ada saat ini.

Praktisi Migas Nasional Rudi Rubiandini mengatakan bahwa Indonesia dapat mencapai produksi minyak mentah sebesar 1 juta barel per hari apabila tidak dengan mematok target waktu. Apalagi dengan waktu kurang dari 10 tahun lagi, Indonesia masih belum menemukan cadangan migas baru dalam skala besar.

“Kalau 2030 itu impossible. Kalau 8 tahun ke depan itu di data yang onstream, tidak dapat mencapai 1 juta barel,” katanya dalam webinar yang digelar pada Kamis (8/7/2021).

Rudi menambahkan, pemerintah harus lebih atraktif dalam menggaet investor besar untuk mau masuk ke Indonesia agar bisa menemukan cadangan migas baru.

Untuk itu, Rudi berpendapat, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) harus memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sektor hulu migas.

“Untuk lain-lainnya bisa dibenahi dalam waktu yang sangat cepat, seperti perubahan fiscal term dan perubahan cara berkontrak,” jelasnya.

Sementara itu, Tenaga Ahli Komisi Pengawas SKK Migas Bidang Operasional Nanang Abdul Manaf menuturkan, target 1 juta barel pada 2030 telah melalui sejumlah kajian yang dicanangkan dalam rencana jangka panjang.

Target tersebut telah merujuk dari data dan strategi yang disusun untuk mencapainya, seperti menjaga produksi existing untuk tidak turun terlalu besar, mempercepat proses plan of development (POD), penerapan enhanced oil recovery (EOR), dan eksplorasi secara massif.

“Keempat itu harus pas dengan rencananya. Ketika semua faktor berubah, akan sulit mencapai target. Bukan tidak mungkin, tapi asumsinya harus pas. Ketika faktor berubah, kita harus berani juga mengoreksinya,” ucapnya.

Di sisi lain, tren produksi minyak di dalam negeri memang terus menurun dalam kurun waktu 1 dekade terakhir. Peningkatan produksi hanya terjadi pada 2016, pada saat proyek Banyu Urip beroperasi sehingga mampu mendongkrak produksi menjadi 800.000 barel per hari.

Namun, setelah itu produksi di dalam negeri terus merosot hingga saat ini posisinya telah di bawah 700.000 barel per hari.

“Penurunan produksi ekstraksi sumber daya naturalnya adalah decline. Berbeda dengan renewable energy, jadi kalau kita punya produksi di suatu lapangan dan tidak ada upaya mencari lapangan baru otomatis akan turun,” katanya.

Menurutnya, diperlukan dukungan pemerintah untuk menjaga industri hulu migas di dalam negeri dengan meningkatkan prospektivitas eksplorasi migas, meningkatkan iklim investasi melalui pendekatan fiskal, memberikan kepastian regulasi, serta stabilitas politik dan keamanan.

“Diperlukan langkah breakthrough untuk meningkatkan daya tarik investasi hulu migas,” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

skk migas produksi minyak
Editor : Lili Sunardi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top