Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Bahan Baku Kabel Melambung, Produksi Bakal Turun

Saat ini harga bahan baku kabel sudah jauh di atas level normal. Situasi ini tidak wajar, mengingat sebelumnya stabilitas harga bahan baku terjaga sejak 2008.
Ipak Ayu
Ipak Ayu - Bisnis.com 09 Juni 2021  |  19:01 WIB
Petugas mengerjakan perawatan jaringan kabel listrik di Manahan, Solo, Jawa Tengah, Jumat (20/10). - ANTARA/Mohammad Ayudha
Petugas mengerjakan perawatan jaringan kabel listrik di Manahan, Solo, Jawa Tengah, Jumat (20/10). - ANTARA/Mohammad Ayudha

Bisnis.com, JAKARTA — Industri kabel memproyeksi akan ada penurunan produksi kembali tahun ini karena faktor kenaikan harga bahan baku tembaga yang melambung tinggi.

Artinya, penurunan produksi tersebut melanjutkan tren sejak tahun lalu yang sudah terkoreksi hingga 50 persen karena Covid-19 dan turunnya permintaan dari PT PLN (Persero) sebagai pasar terbesar industri ini.

Ketua Umum Asosiasi Pabrik Kabel Indonesia (Apkabel) Noval Jamalullail mengatakan saat ini harga aluminium naik 40 persen dan tembaga 70 persen atau sudah mencapai US$10.400 per ton Mei 2021 sejak 2019. Menurutnya, angka itu bukan level yang wajar sejak periode 1990-an.

"Saya main kabel sejak 90an, seumur-umur enggak pernah harga sampai tembus US$10.000 [per ton] tahun lalu harga di 8.800 tetapi tidak sampai satu bulan sudah 6.000 lagi," katanya kepada Bisnis, Rabu (9/6/2021).

Noval menyebut harga US$6.000 per ton tersebut merupakan harga kestabilan yang terjadi sejak 2008. Oleh karena itu, saat ini banyak produsen yang sudah semakin khawatir dengan tender yang sudah dilakukan empat hingga lima bulan lalu.

Menurut Noval, khusus untuk PLN saat ini telah melakukan kesepakatan dengan rencana tender ulang. Pasalnya kenaikan, harga bahan baku telah membuat harga per unit kabel melambung sektar 25–40 persen.

Sementara itu tender terakhir dengan PLN dilakukan pada periode Oktober 2019 dengan harga masih pada level US$6.028 per ton.

"Pabrikan kalau cuma naik 2–3 persen mungkin akan merelakan margin tetapi kalau sampai 40 persen tidak bisa dong berjalan dengan minus," ujarnya.

Noval melanjutkan, tender dengan sektor swasta, akan membuat pabrikan menurunkan jumlah unit yang akan diserap. Singkatnya , kondisi industri kabel saat ini sudah jatuh tertimpa tangga.

Noval menyebut fokus PLN  tahun ini pada pengembangan EBT juga akan memengaruhi kinerja pabrikan.

"Tahun lalu mereka beresin utang Rp2,7 triliun, sekarang sesuai amanat anggaran untuk EBT akan naik 20 persen artinya kegiatan transmisi dan distribusi akan berkurang. Sementara anggaran juga kurang lebih masih sama dengan tahun lalu," ujarnya.

Sebagai catatan, industri kabel listrik lokal memiliki kapasitas produksi kabel transmisi listrik bawah tanah berkapasitas 50Kv-150Kv (Kilovolt) sepanjang 3.420Km per tahun. Adapun, permintaan kabel listrik layang berkapasitas 150Kv--500Kv untuk mentransmisikan daya dari pembangkit listrik ke gardu mencapai sekitar 64.400Km pada 2019.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

listrik manufaktur kabel
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top