Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perusahaan Eropa Akan Berinvestasi Lebih Banyak di China Setelah Pandemi

Hampir 60 persen perusahaan Eropa berencana untuk memperluas operasi China mereka pada tahun 2021, naik dari 51 persen tahun lalu, menurut survei tahunan oleh Kamar Dagang Eropa yang dirilis Selasa (8/6/2021).
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 08 Juni 2021  |  10:39 WIB
Manufaktur China - Reuters
Manufaktur China - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Bisnis Eropa akan meningkatkan investasi dan memindahkan rantai pasokan ke China setelah pemulihan cepat dari pandemi tahun lalu menjadikan negara itu sumber pertumbuhan dan keuntungan yang lebih penting.

Hampir 60 persen perusahaan Eropa berencana untuk memperluas operasi China mereka pada tahun 2021, naik dari 51 persen tahun lalu, menurut survei tahunan oleh Kamar Dagang Eropa yang dirilis Selasa (8/6/2021). Sekitar setengah dari responden melaporkan margin keuntungan di China lebih tinggi dari rata-rata global mereka, melonjak dari 38 persen yang tercatat tahun sebelumnya.

“Ketahanan pasar China memberikan perlindungan yang sangat dibutuhkan bagi perusahaan-perusahaan Eropa di tengah badai pandemi Covid-19,” kata laporan survei tersebut, dilansir Bloomberg, Selasa (8/6/2021).

Pembatasan yang cepat di China dan pembukaan kembali ekonominya yang sukses awal tahun lalu menjadikannya pendorong pertumbuhan global utama pada 2020, memberikan penyelamat bagi perusahaan-perusahaan Eropa dari raksasa mewah Prancis LVMH SE hingga pembuat mobil Jerman BMW AG.

Sebanyak 73 persen responden survei melaporkan laba tahun lalu, dengan 14 persen lainnya mencapai titik impas. Itu hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya, menunjukkan seberapa cepat pasar domestik bangkit kembali. Sekitar 68 persen responden survei optimistis tentang prospek bisnis di sektor mereka selama dua tahun ke depan, naik dari 48 persen tahun lalu.

Perusahaan Eropa juga mengembangkan bisnis di China untuk menghindari gangguan rantai pasokan karena ketegangan geopolitik.

Seperempat dari perusahaan yang disurvei mendukung rantai pasokan mereka dengan memindahkan jalur produksi ke China atau beralih ke pemasok dengan produksi lokal, menurut kamar tersebut. Hanya 9 persen perusahaan yang mengatakan mereka sedang mempertimbangkan untuk memindahkan investasi saat ini atau yang direncanakan, level terendah yang pernah tercatat.

“Poin utamanya adalah mengembangkan rantai pasokan sebanyak mungkin di sini, sejauh mungkin, untuk menyediakan apa yang dibutuhkan pasar di sini,” kata Charlotte Roule, anggota dewan Kamar Dagang.

Perusahaan dihadapkan pada ancaman perselisihan antara China dan ekonomi lain, dengan banyak yang bergantung pada impor untuk komponen atau input penting yang dapat terganggu oleh pembatasan atau larangan oleh negara lain.

Sepertiga perusahaan mengatakan bahwa tidak ada alternatif yang layak untuk beberapa peralatan atau komponen yang mereka impor dari luar negeri ke China, membuat mereka terkena gangguan produksi. Sedangkan 40 persen lainnya mengatakan bahwa alternatif apa pun akan lebih mahal atau berkualitas lebih rendah.

Lingkungan politik untuk perusahaan-perusahaan Eropa di China menjadi lebih sulit pada 2021, dengan boikot konsumen terhadap perusahaan-perusahaan seperti Hennes & Mauritz AB pada Maret dan Beijing dan Brussels saling menjatuhkan sanksi atas tuduhan pelanggaran HAM oleh China terhadap penduduk Uyghur di Xinjiang.

Bahkan sebelum itu, lebih dari 40 persen responden dalam survei pada Februari berpendapat bahwa lingkungan bisnis di China telah menjadi lebih politis pada tahun lalu. Ada 585 responden survei, yang dilakukan pada Februari.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi eropa china
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top