Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Haji 2021 Resmi Batal, Garuda Tetap Rugi Tapi Sudah Dikalkulasi

Kontribusi pendapatan haji yang mencapai 10 persen dari pendapatan Garuda pada 2019 memang bakal membantu tetapi juga tak signifikan.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 03 Juni 2021  |  21:18 WIB
Garuda Indonesia - istimewa
Garuda Indonesia - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) sudah memperkirakan bahwa keberangkatan haji pada 2021 dibatalkan. Emiten penerbangan ini telah bersiap diri menghadapi berkurangnya pendapatan dari sektor tersebut.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan pada tahun ini sudah menyiapkan diri untuk berstrategi dengan mengecualikan pendapatan dari sektor haji sama halnya dengan larangan mudik pada tahun ini.

Meski sudah menyiapkan diri atas pembatalan haji, maskapai pelat merah tersebut juga tetap melakukan simulasi apabila ibadah haji dapat dilakukan pada tahun ini dengan sejumlah restriksi kapasitas penumpang.

Satu hal yang pasti, kata Irfan, pembatalan haji pada tahun ini juga tak banyak mempengaruhi atau bahkan menambah beban proses restrukturisasi yang tengah dilakukan di tubuh Garuda. Kontribusi pendapatan haji yang mencapai 10 persen dari pendapatan Garuda pada 2019 memang bakal membantu tetapi juga tak signifikan.

“Dengan kondisi restrukturisasi saat ini. Dampak [pembatalan haji] juga sudah kami perhitungkan sebelumnya,” ujarnya, Kamis (3/6/2021).

Sebelumnya emiten berkode saham GIAA memang sempat berlega hati dengan adanya prioritas dari Pemerintah Arab Saudi terhadap jemaah haji di Indonesia pada 2021 kendati potensi jumlahnya bakal jauh berkurang.

Komisaris Garuda Indonesia Yenny Wahid menuturkan bagi perseroan kepastian terkait dengan penyelenggaraan haji dan besaran kuota menjadi penting karena berpengaruh terhadap aspek penyiapan pesawat.

Selain itu, maskapai pelat merah tersebut tak memungkiri bahwa pendapatan dari haji merupakan salah satu penghasilan penting.

Yenny memaparkan selama pandemi Covid-19 masih ada gap yang cukup tinggi antara penurunan pendapatan dengan upaya efisiensi yang tengah dilakukan. Penurunan jumlah pendapatan dan penumpang Garuda mencapai 90 persen. Di sisi lain upaya efisiensi biaya operasi juga telah dilakukan maskapai berkode saham GIAA tersebut hanya mampu mencapai 20 persen.

"Tentunya kami sedikit lega kalau ada jaminan soal haji. Karena tadi masih ada gap besar antara anjloknya pendapatan dengan upaya efisiensi yang dilakukan. Jadi soal keputusan haji in, kami sama berdebarnya dengan masyarakat Indonesia yang lainnya," ujarnya.

Maskapai dengan jenis layanan penuh saat ini memang tengah mencari sumber pundi-pundi pendapatan yang baru di luar sektor penumpang tetapi tentunya juga berharap masih bisa memaksimalkan sumber pendapatan lamanya seperti haji dan umrah.

Menurut pemerhati penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri) Gerry Soedjatman selama ini persentase pendapatan baik haji maupun umrah bagi maskapai nasional tak terlalu besar.

Pendapatan haji pun komposisinya tergolong kecilbagi Garuda apabila dibandingkan dengan masa periode mudik. Namun di sisi lain tingkat utilisasi pesawat Garuda pun bisa meningkat setelah banyak yang dikandangkan selama penutupan haji dan umrah pada tahun lalu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Garuda Indonesia restrukturisasi Ibadah Haji
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top