Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Meski PMI Manufaktur Sudah Menguat, Industri Hulu Masih Belum Pulih

PMI manufaktur global mencatatkan penguatan dan mencapai angka 55,8 atau tertinggi sejak April 2010.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 27 Mei 2021  |  21:34 WIB
Petugas beraktivitas di pabrik pembuatan baja Kawasan Industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/10/2019). ANTARA FOTO - Fakhri Hermansyah
Petugas beraktivitas di pabrik pembuatan baja Kawasan Industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/10/2019). ANTARA FOTO - Fakhri Hermansyah

Bisnis.com, JAKARTA - Angka purchasing managers index (PMI) manufaktur secara total terus berada di atas 50 yang menandakan ekspansi. Meski begitu, masih ada elemen yang di bawah poin 50.

Berdasarkan analisa ekonom Mohamad Revindo dan Cania Adinda Sinaga dari Pusat Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global LPEM FEB UI, PMI manufaktur global mencatatkan penguatan dan mencapai angka 55,8 atau tertinggi sejak April 2010.

"Sebagaimana diketahui, angka PMI melebihi 50 menunjukkan bahwa para manajer pengadaan di perusahan manufaktur menengah dan besar memiliki kepercayaan yang lebih baik dari bulan sebelumnya untuk mulai membeli bahan baku, bahan penolong dan barang modal," katanya, Kamis (27/5/2021).

Kepercayaan ini, jelas Revindo dan Cania, disebabkan adanya kebutuhan dari divisi produksi untuk merespon naiknya permintaan konsumen atau sekedar menumpuk persediaan karena optimisme mengantisipasi kenaikan kebutuhan produksi. Sejalan dengan PMI Global, PMI manufaktur Indonesia juga merekam sentimen positif dengan nilai 54,6 pada bulan April lalu.

Meski secara umum industri manufaktur menunjukkan ekspansi, jika dilihat lebih mendetail pada elemen pembentuk PMI, masih terdapat beberapa hal yang masih menghambat percepatan pemulihannya. Misalnya, elemen harga bahan baku serta elemen waktu dan biaya pengiriman barang masih mencatat nilai kurang dari 50.

“Hal ini mengindikasikan bahwa industri hulu masih tertinggal pemulihannya serta masih terhambatnya mobilitas dan pengiriman barang, baik domestik maupun lintas negara atau ekspor dan impor,” jelasnya.

Dalam laporannya, Revindo dan Cania menyatakan tidak mengherankan jika elemen perekrutan tenaga kerja pada PMI masih pada kisaran angka 50. Akibatnya, meski industri manufaktur telah mulai melakukan pembelian input, mereka belum cukup yakin untuk merekrut tenaga kerja baru.

Hal ini karena perekrutan tenaga kerja membutuhkan komitmen jangka menengah berupa kontrak kerja dan kewajiban perusahaan terhadap pekerja. Dengan demikian, untuk mempercepat pemulihan manufaktur, kebijakan yang dapat ditempuh adalah pemberian stimulus pada sektor transpotasi dan logistik.

Sebagai contoh, dapat dipertimbangkan pemberian insentif untuk perusahaan jasa pengiriman barang yang memiliki komitmen mengirim barang dari wilayah perdesaan ke perkotaan atau dari luar Jawa ke Jawa. Atau juga yang mengirim produk-produk UMKM dari sentra produksi ke sentra konsumen. Diperlukan juga perhatian atas perusahaan termasuk rintisan yang bergerak pada bidang pergudangan dan pengiriman yang berperan menjadi agregator pendistribusian produk UMKM di berbagai daerah.

Selain itu, apa yang telah dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia dan DAMRI dengan menawarkan fasilitas pengiriman produk UMKM dari daerah ke perkotaan adalah inisiatif yang sangat tepat. Ini perlu direplikasi di berbagai daerah dan diterapkan pada jasa angkutan laut.

“Jika sisi logistik ini dibenahi, maka perkiraan PMI-BI [Bank Indonesia] sebesar 55,25 persen pada kuartal kedua 2021 akan lebih mungkin tercapai,” papar laporan tersebut.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur konsumsi pmi
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top