Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Pangan Dunia Makin Mahal, Efeknya ke Indonesia?

Pergerakan harga pangan dunia telah memberikan dampak pada sejumlah komoditas.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 09 Mei 2021  |  17:15 WIB
Seorang pekerja berdiri di antara tumpukan karung gula mentah - Bloomberg
Seorang pekerja berdiri di antara tumpukan karung gula mentah - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia dihadapkan pada solusi terbatas dalam menghadapi kenaikan harga pangan dunia yang terus berlanjut. 

Indeks Harga Pangan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO Food Price Index/FFPI) pada April bertengger di 120,9 poin atau naik 1,7 persen dibandingkan dengan indeks pada Maret 2021. Indeks ini juga 30,8 persen lebih tinggi dibandingkan dengan April 2020.

Kenaikan pada April juga menjadi indikasi tren harga pangan yang terus merangkak dalam 11 bulan terakhir, sekaligus memecahkan rekor  indeks tertinggi sejak Mei 2014.

FAO melaporkan kenaikan pada April disumbang oleh naiknya sejumlah komoditas. Kontribusi kenaikan terbesar berasal dari gula, minyak nabati, daging, produk susu, dan serealia. Dari kelompok komoditas tersebut, sebagian diimpor Indonesia dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Sebagai contoh, Indonesia telah mengimpor 1,19 juta ton gula mentah selama Januari–Februari 2021 dengan nilai US$471,35 juta untuk memenuhi kebutuhan industri dan konsumsi. Jika dirata-rata, maka harga gula mentah impor berada di kisaran US$0,39 per kilogram (kg). Adapun pada periode yang sama tahun lalu, impor gula mentah mencapai US$239,68 juta dengan volume 699.878 ton dengan harga rata-rata saat itu US$0,34 per kg.

Kenaikan harga juga tecermin dari importasi biji kedelai yang secara volume naik 10,04 persen dari 403.875 ton pada Januari–Februari 2020 menjadi 444.434 ton pada 2021. Namun dari sisi nilai impor, kenaikan mencapai 36,47 persen dari US$164,53 juta menjadi US$224,54 juta pada periode tersebut.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan pergerakan harga global untuk komoditas-komoditas tersebut tidak bisa dihindari karena pasokan domestik belum bisa memenuhi kebutuhan.

“Harga tidak bisa dihindari karena dipengaruhi situasi internasional. Yang bisa dipastikan adalah bagaimana pasokan tetap terpenuhi dan kenaikan harganya terkendali,” kata Oke, Minggu (9/5/2021).

Oke menjelaskan pergerakan harga dunia telah mulai dirasakan dampaknya pada sejumlah komoditas. Di antaranya adalah kedelai yang memaksa perajin di dalam negeri melakukan penyesuaian harga sejak awal tahun. Sementara untuk gula, Oke mengatakan tidak ada masalah dari segi harga impor.

“Untuk kedelai sudah terpengaruh. Namun kami sudah berbicara dengan para importir untuk menahan diri dalam menaikkan harga, setidaknya sampai Lebaran. Sejauh ini semua sepakat dan pemerintah mengapresiasi hal tersebut,” lanjutnya.

Mengutip Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (SP2KP), sejumlah komoditas yang turut dipenuhi lewat impor memang mengalami kenaikan dalam setahun terakhir. Selain kedelai yang bergerak dari Rp11.100 pada Mei 2020 menjadi Rp12.100 pada Mei 2021, kenaikan juga terjadi pada daging sapi paha belakang dari rata-rata Rp120.300 per kg menjadi Rp126.300 per kg.

Sementara untuk gula, harga mengalami penurunan 23,84 persen dari Rp17.200 per kg pada Mei 2020 menjadi Rp13.100 per kg. Harga bawang putih yang tahun lalu juga terganggu importasinya turun 18,99 persen dari Rp35.800 menjadi Rp29.000 per kg.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gula pangan kementerian perdagangan harga pangan fao
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top