Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Inflasi April 2021 Diperkirakan Naik Tipis, Ini Kata Pengamat

Meskipun mobilitas lebih tinggi dibandingkan setahun sebelumnya, Faisal mengingatkan hal tersebut belum bisa mendorong inflasi lebih tinggi atau setara dengan level sebelum pandemi.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 02 Mei 2021  |  15:45 WIB
Inflasi April 2021 Diperkirakan Naik Tipis, Ini Kata Pengamat
Ilustrasi - Bisnis/Abdurachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Inflasi bulanan April 2021 diperkirakan lebih tinggi dari bulan sebelumnya, meskipun naik tipis di kisaran antara 0,1 - 0,2 persen (month-to-month/mtm).

Ekonom Center of Reform on Econmics (CORE) Mohammad Faisal juga memperkirakan inflasi pada April 2021 akan lebih tinggi dari tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Hal itu terutama karena sebagian besar wilayah di Indonesia masih menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap pertama, pada April 2020.

“Kalau dibandingkan tahun lalu pada saat [awal] pandemi, itu [inflasi] April [2020] kan lebih rendah dari 0,1. Tapi di tahun ini sedikit lebih tinggi karena tahun lalu kan PSBB, dan orang tidak mudik lebaran. Tapi tahun ini mendingan karena mobilitas sudah lebih besar,” jelas Faisal kepada Bisnis, Minggu (2/5/2021).

Meskipun mobilitas lebih tinggi dibandingkan setahun sebelumnya, Faisal mengingatkan hal tersebut belum bisa mendorong inflasi lebih tinggi atau setara dengan level sebelum pandemi.

Padahal, menurutnya inflasi biasanya tinggi menjelang atau selama Ramadan, dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.

Masalahnya, kata Faisal, terletak pada sisi permintaan (demand). Tingkat permintaan yang rendah membuat inflasi juga masih rendah. Meskipun mobilitas semakin tinggi, masyarakat belum tentu melakukan kegiatan belanja lebih besar dibandingkan pada saat sebelum pandemi.

“Refleksi dari inflasi yang rendah padahal sudah masuk bulan Ramadan ini menandakan bahwa dari sisi konsumsi belum ada dorongan yang cukup kuat untuk mendorong perekonomian,” ujarnya.

Dia menyebut pemerintah memiliki “pekerjaan rumah” yang besar untuk mendorong sisi konsumsi masyarakat, terutama pada masyarakat kelompok pendapatan menengah ke bawah yang masih memiliki daya beli rendah.

Di sisi lain, keputusan belanja pada kelompok menengah ke atas cenderung berkaitan dengan penanganan pandemi Covid-19. Selama penyebaran virus belum teratasi, Faisal melihat kelompok pendapatan tersebut tidak akan melakukan belanja lebih besar seperti yang dilakukan sebelum pandemi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi Mudik Lebaran Ramadan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Saeno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top