Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lockdown Reda, Warga Inggris Diprediksi Belanjakan Dana US$207 Miliar

Rumah tangga diprediksi akan mengeluarkan sekitar 150 miliar poundsterling (US$ 207 miliar) tabungan yang terkumpul selama setahun terakhir.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 April 2021  |  14:35 WIB
Bank of England - e/architect.co.uk
Bank of England - e/architect.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA - Perekonomian Inggris Raya sedang menemukan momentum. Sejumlah indikator menunjukkan konsumen mulai membelanjakan sebagian uang tunai yang telah mereka tabung karena pemerintah melonggarkan aturan lockdown.

Data dari Bloomberg Economics dan statistik pemerintah menunjukkan pemesanan restoran dan lowongan pekerjaan melonjak ke level tertinggi sejak dimulainya pandemi virus corona.

Sementara itu lalu lintas jalan raya dan jumlah orang yang bepergian ke tempat kerja meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Toko dan bar sudah diizinkan untuk dibuka kembali pada 12 April, dan sebagian besar pembatasan ditetapkan berakhir pada 21 Juni.

Dengan lebih dari dua per tiga orang dewasa di Inggris telah divaksinasi, Perdana Menteri Boris Johnson mulai mengendurkan imbauan terkait penularan virus.

Gubernur Bank of England Andrew Bailey mengantisipasi pemulihan yang kuat. Persiapan dilakukan disiapkan karena rumah tangga diprediksi mengeluarkan sekitar 150 miliar poundsterling (US$ 207 miliar) tabungan yang terkumpul selama setahun terakhir.

Sementara itu, menurut data hingga 9 April dari situs web pekerjaan Adzuna yang diterbitkan Kantor Statistik Nasional, jumlah iklan pekerjaan online di Inggris kembali ke tingkat yang terlihat sebelum pandemi untuk pertama kalinya.

Itu adalah pertanda positif setelah setahun Inggris tertinggal dari banyak negara dengan bisnis yang kurang percaya diri merekrut staf baru.

Pengumuman lowongan kerja di situs web telah pulih hingga sekitar 16 persen di bawah yang terlihat pada awal Februari 2020. Angkanya telah melonjak seperlima sejak Inggris menetapkan peta jalan menuju pelonggaran pembatasan.

Menurut Fabrice Montagne, kepala ekonom Inggris di Barclays Bank Plc., proporsi pekerja cuti yang benar-benar kembali ke pasar tenaga kerja akan menjadi kunci pemulihan konsumen,

"Penguncian ketiga sebenarnya jauh lebih tidak mengganggu daripada yang kami duga. Oleh karena itu, pantulan secara otomatis akan lebih kecil," kata Montagne, seperti dilansir Bloomberg, Minggu (18/4/2021).

Pembatasan sektor restoran dan perhotelan sangat memberatkan ekonomi Inggris yang digerakkan oleh konsumen.

Sektor jasa masih lebih kecil 8,8 persen dibandingkan sebelum pandemi. Lebih dari setengah dari 693.000 penurunan gaji karyawan disebabkan oleh lebih sedikit pekerjaan di jasa makanan sejak Februari 2020.

Menurut indeks kemacetan London yang diproduksi perusahaan teknologi lokasi TomTom, lalu lintas jalan pulih perlahan.

Jam sibuk pagi belum muncul, menunjukkan banyak orang yang biasanya pulang pergi tetap bekerja dari rumah.

Data dari badan statistik menunjukkan bahwa orang menjadi semakin percaya diri untuk kembali ke tempat kerja dan bergaul dengan orang lain.

Dalam seminggu hingga 11 April, 53 persen orang dewasa yang bekerja melaporkan meninggalkan rumah untuk pergi bekerja.

Hampir enam dari 10 orang dewasa bertemu dengan seseorang di luar rumah tangga mereka, meningkat kurang dari setengah minggu sebelumnya.

Permintaan listrik juga meningkat. Ini adalah tanda lain bahwa aktivitas ekonomi terkerek.

Pengetatan aturan berikutnya mengalami penurunan yang jauh lebih kecil, karena sektor manufaktur dan konstruksi mampu beradaptasi dan tetap buka.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris Boris Johnson Lockdown
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top