Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Status Darurat Diperpanjang, Ekonomi Jepang Hadapi Pukulan Ekstra

Kemungkinan Jepang mengadakan Olimpiade tanpa penonton asing akan meningkatkan pukulan terhadap ekonominya sejalan dengan status darurat yang diperpanjang.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 04 Maret 2021  |  11:36 WIB
Logo Olimpiade terlihat di salah satu bagian Kota Tokyo, Jepang. - Bloomberg
Logo Olimpiade terlihat di salah satu bagian Kota Tokyo, Jepang. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Kemungkinan perpanjangan status darurat Tokyo akan menekan jumlah infeksi jelang penyelenggaraan Olimpiade pada Juli mendatang. Namun, meski terbatas, tetap ada dampak ekonomi yang ditimbulkan.

Perdana Menteri Yoshihide Suga sebelumnya mengatakan bahwa dia sedang mempertimbangkan untuk memperpanjang keadaan darurat di ibukota Tokyo dan sekitarnya sekitar dua minggu mulai 7 Maret 2021.

Para ekonom berpendapat, kemungkinan perpanjangan keadaan darurat Tokyo sebanding dengan risiko peningkatan kasus virus yang dapat mengancam penyelenggaraan Olimpiade pada musim panas mendatang.

Memastikan tidak ada rebound dalam infeksi virus akan membantu mempertahankan penyelenggaraan Olimpiade. Sedangkan menekan aktivitas sedikit lebih lama tidak akan menambah terlalu banyak kerusakan ekstra pada ekonomi yang sudah menunjukkan beberapa tanda pemulihan bahkan di bawah batasan yang ada.

"Perpanjangan dua minggu berarti pukulan negatif 360 miliar yen ($ 3,4 miliar)," kata Junichi Makino, kepala ekonom di SMBC Nikko Securities Inc, dilansir Bloomberg, Kamis (4/3/2021).

Kerugian itu akan mendorong produk domestik bruto turun sebesar 0,05 poin persentase.

Namun, kemungkinan Olimpiade tanpa penonton asing akan meningkatkan pukulan terhadap ekonomi, dengan keputusan yang dijadwalkan dalam beberapa minggu mendatang.

Penyelenggara Olimpiade Tokyo sedang menyelesaikan rencana untuk membatasi penonton luar negeri menghadiri acara.

“Pemerintah metropolitan Tokyo, khususnya, kemungkinan khawatir Olimpiade tidak dapat berlangsung jika aturan saat ini dilonggarkan dan jumlah kasus naik lagi,” kata ekonom Mari Iwashita dari Daiwa Securities Co.

Sebagian besar kerusakan ekonomi dari keadaan darurat telah terjadi dan perpanjangan status itu di wilayah Tokyo akan menarik mundur pengeluaran untuk pemulihan yang lebih cepat.

Ekonom yang disurvei bulan lalu melihat ekonomi menyusut 5,9 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini di bawah keadaan darurat, menyusul lonjakan 12,7 persen pada kuartal lalu.

Menurut ekonom Hiroaki Muto dari Sumitomo Life Insurance Co, pembatasan yang berkelanjutan terhadap aktivitas kini akan mengakibatkan permintaan yang tertunda muncul dalam pengeluaran selama liburan Golden Week di awal Mei. Dia menambahkan, konsumsi sudah bertahan lebih baik dari yang diharapkan pada kuartal lalu, .

Menjaga Olimpiade tetap pada jalurnya kemungkinan merupakan bagian dari pemikiran di balik memperpanjang keadaan darurat. Tetap saja, menyelenggarakan Olimpiade tanpa penonton dari luar negeri akan menumpulkan pemulihan di musim panas.

Menurut Takahide Kiuchi, ekonom Nomura Rsearxh Institute Ltd, pembatalan tiket dan dampaknya pada pariwisata akan menyebabkan kerugian ekonomi tambahan sekitar 196,1 miliar yen.

Presiden Komite Penyelenggara Seiko Hashimoto mengatakan penyelenggara Olimpiade Tokyo akan memutuskan akhir bulan ini apakah akan mengizinkan penonton dari luar negeri.

Dalam keadaan darurat, pemerintah daerah telah menginstruksikan bar dan restoran tutup pada jam 8 malam, dan menyarankan orang untuk menghindari keluar rumah yang tidak perlu. Langkah-langkah tersebut, meski terbatas, telah membantu sebagian besar negara mengendalikan infeksi, tetapi telah terbukti merusak banyak bisnis ritel dan restoran.

Terlepas dari pembatasan sukarela yang masih ada, ada bukti bahwa setelah penurunan pada awal keadaan darurat, aktivitas telah meningkat saat status itu dicabut lebih awal di beberapa kota dan ketika kasus turun.

Rata-rata tujuh hari infeksi baru di Tokyo berada pada 278 kemarin, jauh di bawah ambang batas 500 yang disebutkan oleh pemerintah sebagai salah satu dari beberapa persyaratan untuk mencabut keadaan darurat.

Data alternatif frekuensi tinggi Bloomberg Economics menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi sudah meningkat pada Februari di Jepang, melebihi tingkat di negara maju lainnya.

Catherine Lim dari Bloomberg Intelligence memperkirakan bahwa penjualan ritel Jepang dapat meningkat bulan ini, meskipun keadaan darurat diperpanjang.

Sentimen konsumen mungkin cerah di tengah penurunan kasus Covid-19, membantu meningkatkan pembelian pakaian Uniqlo dan mengekang penurunan penjualan pakaian Muji pada bulan Maret, katanya.

Namun, mencabut keadaan darurat dapat memicu peningkatan baru dalam jumlah kasus di ibu kota dan akan berdampak pada pemilu di Tokyo.

“Kami memiliki Olimpiade dan pemilihan umum pemerintah Tokyo Juli mendatang. Jika keadaan darurat dicabut lebih awal dan kasus-kasus melonjak lagi ke titik penutupan lain sebelum pemilihan, itu akan seperti melempar lumpur ke hadapan gubernur Tokyo dan pemerintah nasional," jelas Makino.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi jepang
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top