Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Logam Tanah Jarang di China Anjlok Gara-Gara Persaingan Domestik

Kementerian Perindustrian China mengusulkan pada Januari untuk memperketat regulasi sektor tanah jarang, termasuk ketentuan bahwa importir dan eksportir mematuhi undang-undang perdagangan luar negeri dan kontrol ekspor.
Zufrizal
Zufrizal - Bisnis.com 01 Maret 2021  |  22:00 WIB
Industri logam di Jawa Tengah.  - ANTARA
Industri logam di Jawa Tengah. - ANTARA

Bisnis.com, BEIJING — Menteri Perindustrian China mengatakan bahwa logam tanah jarang, sekelompok 17 mineral yang digunakan dalam peralatan militer dan elektronik, dijual murah  rendah karena "persaingan sengit" di dalam negeri dan menghadapi pemanfaatan sumber daya yang rendah.

Harga beberapa logam tanah jarang di China, seperti praseodymium-neodymium (PrNd)—yang digunakan dalam magnet tanah jarang—telah melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun tahun ini di tengah permintaan yang kuat dari sektor kendaraan listrik.

Namun, harga logam tanah jarang lainnya yang ditambang secara bersamaan, seperti cerium dan lanthanum, yang digunakan sebagai katalis untuk penyulingan minyak tetap tertekan karena pasokan yang melimpah.

"Tanah jarang kami tidak dijual dengan harga 'langka', tetapi dijual dengan harga 'bumi' ... karena penawaran yang kompetitif yang menyia-nyiakan sumber daya yang berharga," kata Menteri Perindustrian dan Teknologi Informasi Xiao Yaqing dalam jumpa pers, Senin (1/3/2021) seperti dikutip https://auto.economictimes.indiatimes.com/ dari Reuters.

Ketergantungan yang besar pada China yang merupakan produsen logam tanah jarang utama di dunia, telah membuat Amerika Serikat melakukan peninjauan kembali rantai pasokan mineralnya.

Pengiriman magnet tanah jarang dari China ke Amerika Serikat mencapai 585 ton pada Desember 2020, tertinggi sejak setidaknya 2016, menurut data Bea Cukai China. Ekspor tanah jarang China secara keseluruhan tahun lalu adalah yang terendah sejak 2015 di tengah permintaan yang dilanda virus corona di luar negeri.

Kementerian Perindustrian China mengusulkan pada Januari untuk memperketat regulasi sektor tanah jarang, termasuk ketentuan bahwa importir dan eksportir mematuhi undang-undang perdagangan luar negeri dan kontrol ekspor.

"Pemerintah harus berperan dalam menjaga ketertiban pasar, melonggarkan apa yang bisa dilonggarkan dan mengontrol apa yang harus dikontrol," kata Xiao, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala grup logam milik negara Chinalco, induk dari salah satu produsen logam tanah jarang terbesar di China.

Logam tanah jarang merupakan kumpulan dari 17 unsur yakni scandium (Sc), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), lutetium (Lu), dan yttrium (Y).

Unsur-unsur tersebut sangat berperan dalam pengembangan industri maju berbasis teknologi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mineral logam
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top