Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

APNI : Banyak Perusahaan Rebutan Akuisisi Tambang Nikel

Saat ini saja pergerakan harga nikel semakin meningkat setiap hari. Harga nikel saat ini bergerak menembus US$20.000 per ton.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 24 Februari 2021  |  12:46 WIB
Shanghai Decent Investment (Group) Co., Ltd. bekerja sama dengan PT Bintang Delapan Investama mendirikan PT Sulawesi Mining Investment (SMI) di Indonesia pada 2009, dan mulai melakukan pengembangan terhadap tambang nikel seluas hampir 47.000 hektar di Kabupaten Morowali.  - imip
Shanghai Decent Investment (Group) Co., Ltd. bekerja sama dengan PT Bintang Delapan Investama mendirikan PT Sulawesi Mining Investment (SMI) di Indonesia pada 2009, dan mulai melakukan pengembangan terhadap tambang nikel seluas hampir 47.000 hektar di Kabupaten Morowali. - imip

Bisnis.com, JAKARTA — Seiring dengan didorongnya industri baterai kendaraan listrik di Indonesia, kini semakin banyak perusahaan yang tertarik masuk ke dalam bisnis nikel.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mengungkapkan bahwa cukup banyak perusahaan tambang yang mulai dilirik untuk diakuisisi oleh perusahaan-perusahaan besar yang sebelumnya tidak bergerak dalam bisnis nikel.

"Memang beberapa tambang di bawah APNI itu sedang diakuisisi oleh perusahaan besar, termasuk beberapa perusahaan asing. Lebih banyak lagi dari perusahaan-perusahaan batu bara sudah mulai masuk area nikel," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (23/2/2021).

Menurutnya, tren akuisisi tambang nikel ini akan semakin banyak ke depan sebab tidak dapat dipungkiri bahwa komoditas nikel tengah menjadi primadona.

Saat ini saja, kata Meidy, pergerakan harga nikel semakin meningkat setiap hari. Harga nikel saat ini bergerak menembus US$20.000 per ton. APNI memperkirakan tren peningkatan harga nikel akan terus meningkat hingga 2—3 tahun ke depan hingga pabrik-pabrik pengolah bahan baku baterai kendaraan listrik berdiri.

"Tahun depan, saat smelter HPAL [high pressure acid leaching] sudah produksi kebutuhan bahan baku meningkat. Semua orang rebutan cari lahan akuisisi tambang nikel di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bisnis nikel yang lagi seksi-seksinya ini semua industri ingin memegang di area hulu," katanya.

Hingga awal 2021 ini, sejumlah emiten pertambangan batu bara mengumumkan diversifikasi bisnis dengan turut berbisnis komoditas nikel. Salah satunya, PT Harum Energy Tbk. (HRUM) yang membeli saham perusahaan tambang nikel di Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Australia, Nickel Mines Ltd. Langkah itu pun dilanjutkan dengan aksi akuisisi 24.287 saham milik Aquila Nickel Pte. Ltd. dalam PT Position, perusahaan tambang nikel.

Selain itu, belum lama ini, emiten pertambangan batu bara, PT Resources Alam Indonesia Tbk. (KKGI) juga melakukan pengikatan jual beli saham dua perusahaan nikel sebesar 70 persen, yaitu PT Buton Mineral Indonesia (BMI) dan PT Bira Mineral Nusantara (BMN).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Nikel Kendaraan Listrik
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top