Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kenaikan Freight Kontainer Internasional Bisa Tak Terkendali

Pakar kemaritiman menilai tren kenaikan freight kontainer bisa menjadi tak terkendali lantaran dominasi perusahaan pelayaran global atau main line operator (MLO) yang beroperasi di Indonesia
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 29 Januari 2021  |  18:27 WIB
Ilustrasi pelayaran.
Ilustrasi pelayaran.

Bisnis.com, JAKARTA – Tarif perusahaan pelayaran global atau main line operator (MLO) dengan pelabuhan muat Tanjung Priok ke berbagai pelabuhan tujuan di berbagai wilayah internasional periode Desember 2020 hingga minggu kedua Januari 2021 menunjukkan adanya penaikan signifikan.

Pakar Kemaritiman ITS Surabaya Raja Oloan Saut Gurning mengatakan porsi kenaikan terbesar sebesar 25 kali atau 2500 persen terjadi ke pelabuhan tujuan Shanghai, dan beberapa pelabuhan di China dan Asia Timur lainnya seperti Busan dan Incheon Korea. Bahkan, lanjutnya, secara rerata telah terjadi 600 persen kenaikan freight.

Data tersebut menunjukkan tarif kontainer berukuran 20 kaki dengan tujuan Shanghai mengalami penaikan dari tarif sebelumnya senilai US$20 menjadi US$400 hingga pekan pertama Januari 2021 dan terus naik hingga pekan kedua Januari 2021 mencapai US$500.

“Secara umum kedua tipe kontainer mengalami kenaikan untuk semua tujuan pelabuhan yang di survei. Namun, klaster kontainer 40 feet mengalami porsi kenaikan yang lebih banyak kuantitasnya dibandingkan dengan kontainer 20 FT,” ujarnya, Jumat (29/1/2021).

Distribusi kenaikan atas kontainer 20 FT dan 40 FT secara rerata mencapai 600 persen khususnya untuk kawasan rute kontainer intra Asia dalam empat minggu (awal Desember 2021-pekan kedua Januari 2021). Orientasi kenaikan berpusat ke dan dari pelabuhan-pelabuhan di China dan Asia Timur.

Dia menduga tren kenaikan yang cenderung progresif selama empat minggu tersebut lantaran dominasi MLO yang beroperasi di Indonesia telah memindahkan orientasi kapasitas jasa dan armadanya ke rute-rute menuju pelabuhan utama di China dan Asia Timur lainnya dengan mengurangi kapasitas wilayah rute lain. Termasuk adanya potensi penurunan suplai kapasitas armada untuk wilayah dengan tendensi freight yang tinggi.

Eksportir atau shipper Indonesia, sebutnya, tidak memiliki kemampuan untuk melakukan negosiasi karena begitu kuatnya MLO Internasional yang tidak memiliki kompetisi dan juga kesulitan pengawasan pemerintah.

Menurutnya ada kecenderungan yang kuat terjadi pengendalian level freight kontainer internasional di Indonesia kendati memang harus dibuktikan. Potensi kenaikan bila tidak dikendalikan akan terjadi hingga berakhirnya Tahun Baru China baru kembali stabil hingga kuartal II/2021.

Saut berpendapat sangat berbahaya dan merugikan bila kekuatan pelayaran asing masih mendominasi potensi perdagangan internasional. Kondisi tersebut mengakibatkan kepentingan ekonomi nasional akhirnya tentu tidak menjadi prioritas ketimbang kepentingan korporasi pelayaran MLO sendiri.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pelayaran
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top