Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investasi Langsung Global Turun 42 Persen pada 2020. Bagaimana Prospek Tahun Ini?

Meskipun proyeksi ekonomi global akan pulih pada 2021, UNCTAD memperkirakan aliran FDI akan tetap lemah karena ketidakpastian evolusi pandemi Covid-19.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 25 Januari 2021  |  10:28 WIB
Gedung PBB - Antara
Gedung PBB - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD) menyatakan investasi asing langsung atau FDI global turun 42 persen sepanjang tahun lalu, dari US$1,5 triliun pada 2019 menjadi sekitar US$859 miliar.

Adapun, ketidakpastian tentang pandemi Covid-19 dan lingkungan kebijakan investasi global akan terus memengaruhi aliran FDI pada 2021. Untuk negara berkembang, prospek tahun 2021 menjadi perhatian utama.

Tingkat rendah tersebut terakhir terlihat pada 1990-an dan lebih dari 30 persen di bawah anjloknya investasi setelah krisis keuangan global 2008-2009.

Meskipun proyeksi ekonomi global akan pulih pada 2021, UNCTAD memperkirakan aliran FDI akan tetap lemah karena ketidakpastian evolusi pandemi Covid-19.

Dalam Laporan Investasi Dunia tahun lalu, organisasi tersebut telah memproyeksikan penurunan 5 hingga 10 persen FDI pada 2021.

“Efek pandemi pada investasi akan tetap ada. Investor cenderung tetap berhati-hati dalam menanamkan modalnya ke aset produktif baru di luar negeri," kata James Zhan, direktur divisi investasi UNCTAD, dalam keterangannya, Senin (25/1/2021).

Menurut laporan itu, negara maju terpukul paling parah di mana arus turun sebesar 69 persen menjadi sekitar US$229 miliar.

Arus investasi ke Amerika Utara menurun sebesar 46 persen menjadi US$166 miliar, dengan merger dan akuisisi lintas batas (M&A) turun sebesar 43 persen. Proyek investasi greenfield yang diumumkan juga turun 29 persen dan kesepakatan keuangan proyek turun 2 persen.

Amerika Serikat mencatat penurunan FDI sebesar 49 persen menjadi sekitar US$134 miliar. Penurunan terjadi pada perdagangan grosir, jasa keuangan dan manufaktur. Penjualan M&A lintas batas dari aset AS kepada investor asing turun 41 persen, sebagian besar di sektor primer.

Di sisi lain, investasi ke Eropa mengering. Arus investasi turun dua pertiga menjadi - US$4 miliar. Di Inggris Raya, FDI bahkan turun ke nol.

Namun, sekumlah negara Eropa justru mencatakan kenaikan arus investasi yang menutupi penurunan di tempat lain. Swedia, misalnya, mengalami kenaikam arus naik dua kali lipat dari US$12 miliar menjadi US$29 miliar. FDI ke Spanyol juga naik 52 persen berkat beberapa akuisisi, seperti private equity dari United States Cinven, KKR dan Providence yang mengakuisisi 86 persen saham Masmovil.

Di antara negara maju lainnya, aliran investasi ke Australia juga turun (-46 persen menjadi US$22 miliar) tetapi meningkat untuk Israel (dari US$ 18 miliar menjadi US$26 miliar) dan Jepang (dari US$15 miliar menjadi US$17 miliar).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi fdi pemulihan ekonomi
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top