Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Target Inflasi 3,2 Persen Disebut Optimistis, PR Kemendag Tahun Ini Lebih Besar

Kementerian Perdagangan harus memastikan ketersediaan kebutuhan pangan yang tidak bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri sehingga dapat segera dipenuhi melalui pengadaan impor.
Karyawan bekerja di dalam gudang penyimpanan stok gula pasir milik PT Rejoso Manis Indo (RMI) di Blitar, Jawa Timur, Senin (9/3/2020). Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional menyatakan harga gula secara nasional berangsur naik hingga mencapai Rp16.550 per kilogram sejak Jumat (6/3/2020) kemarin, dari harga acuan yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp 12.500 per kilogram. ANTARA FOTO/Irfan Anshori
Karyawan bekerja di dalam gudang penyimpanan stok gula pasir milik PT Rejoso Manis Indo (RMI) di Blitar, Jawa Timur, Senin (9/3/2020). Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional menyatakan harga gula secara nasional berangsur naik hingga mencapai Rp16.550 per kilogram sejak Jumat (6/3/2020) kemarin, dari harga acuan yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp 12.500 per kilogram. ANTARA FOTO/Irfan Anshori

Bisnis.com, JAKARTA – Target pengendalian harga dan pasokan yang ditetapkan Kementerian Perdagangan dengan mematok inflasi pangan di angka 3,2 persen dinilai sangat optimistis di tengah tantangan yang berat pada tahun ini.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan tantangan tersebut datang baik dari sisi pasokan dan permintaan.

Untuk pasokan, Bhima berpendapat Kementerian Perdagangan harus memastikan ketersediaan kebutuhan pangan yang tidak bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri sehingga dapat segera dipenuhi melalui pengadaan impor.

Volatile food tantangan cukup kompleks pada 2021. Dari sisi pasokan misal kita lihat contohnya di kedelai, ada rebutan pasokan karena permintaan China naik signifikan. Tak menutup kemungkinan kondisi ini terjadi pada komoditas lain yang ketergantungan impornya cukup tinggi, misalnya gula,” kata Bhima saat dihubungi, Selasa (12/1/2021).

Guna meredam gangguan pasokan ini, dia mengatakan Kementerian Perdagangan harus melakukan pendekatan ke negara-negara produsen untuk mengamankan pasokan setahun ke depan. Dengan demikian, terdapat jaminan pasokan sepanjang tahun tidak menghadapi disrupsi yang bisa memicu gejolak harga.

Adapun tantangan dari segi permintaan datang dari potensi pemulihan ekonomi yang datang beriringan dengan proses vaksinasi. Menurut Bhima, permintaan yang mendorong inflasi bisa terjadi jika vaksinasi bisa mengerek konsumsi rumah tangga.

“Kalau selama pandemi saja permintaan yang rendah dan mobilitas yang terbatas masih membuat inflasi pangan relatif tinggi, berarti 2021 jika ada pemulihan permintaan bisa jadi lebih tinggi angkanya. Bisa dibilang target inflasinya cukup optimistis,” kata Bhima.

Mengutip laporan Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi bergejolak yang didominasi kelompok pangan pada tahun kalender 2020 mencapai 3,62 persen. Komponen bahan makanan pun memperlihatkan inflasi sebesar 3,48 persen.

Selain potensi inflasi yang didorong oleh sisi pasokan dan permintaan, Bhima juga memperingatkan akan potensi gangguan distribusi akibat curah hujan tinggi yang diperkirakan terjadi pada awal 2021. Sebagaimana diketahui, bencana hidrologi yang terjadi akibat curah hujan tinggi kerap mengganggu logistik dan turut mengerek harga pangan.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper