Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jokowi Soroti Masalah Impor Kedelai

Presiden Jokowi mendesak para menteri yang terlibat soal pangan dapat mendorong produksi kedelai yang jauh lebih besar di lahan yang besar.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 11 Januari 2021  |  12:45 WIB
Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo Subianto saat meninjau kawasan food estate di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, awal Juli 2020. - Instagram/Prabowo
Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo Subianto saat meninjau kawasan food estate di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, awal Juli 2020. - Instagram/Prabowo

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo menyoroti masalah kedelai dalam negeri yang tidak bersaing dengan produk impor hingga menekan produsen tahu dan tempe.

Hal ini disampaikan dalam pidato pembukaan Pembukaan Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian Tahun 2021 di Istana Negara, pada Senin (11/1/2021).

Presiden menyatakan arus distribusi produk pangan terhambat akibat pandemi Covid-19. Kondisi ini akan memengaruhi komoditas yang masih banyak mengandalkan impor, seperti kedelai.

“Beberapa minggu terakhir ini, perusahaan yang berkaitan dengan tahu, tempe, kedelai menjadi bermasalah karena masalah [distribusi],” katanya.

Untuk itu, diperlukan pengelolaan pangan yang serius untuk mengatasi komoditas impor. Jokowi secara khusus menyebut sejumlah komoditas seperti kedelai, jagung, gula, dan bawang putih.

Problem dari dulu sampai sekarang, kedelai yang bisa tumbuh dengan baik di Indonesia. Kenapa petani kita tidak mau tanam, karena harganya kalah dengan yang kedelai impor. Kalau disuruh jual sama dengan harga impor, harga pokok produksinya tidak menutup,” ungkapnya.

Dia meminta para menteri yang terlibat soal pangan dapat mendorong produksi kedelai yang jauh lebih besar di lahan yang besar pula. Menurutnya, ketersediaan lahan bukan lagi masalah.

Tidak hanya dengan cara konvensional, peningkatan produksi harus dibarengi dengan pengembangan teknologi pertanian yang memadai. Salah satu yang jadi andalan solusi dari Jokowi adalah pembangunan food estate.

“Itulah cara pembangunan pertanian yang harus kita tuju. Skala luas, economic scale, teknologi dipakai betul, sehingga harga pokok produksi bisa bersaing dengan harga komoditas yang sama dari negara lain.”

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan salah satu fokus kerja Kementerian adalah pembangunan food estate dan korporasi pertanian yang sementara ini telah berjalan di enam provinsi.

Selain itu, Kementan juga akan melanjutkan program lumbung pangan yang akan dibangun di desa, kabupaten/kota, provinsi, dan tingkat nasional.

Rakernas ini merupakan pertemuan yang akan membahas program kerja Kementerian pertanian Tahun 2021 yang bertemakan memperkuat peran sektor pertanian dalam menopang pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi.

“Program utama dalam mewujudkan ketahanan pangan, pertama meningkatkan produktivitas insya Allah akan lebih baik pada 2021,” kata Mentan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi harga pangan impor kedelai
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top