Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Target Investasi Migas Tahun Ini Dinilai Realistis, Ini Alasannya

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan investasi untuk dari sektor energi tahun ini bisa mencapai US$36,4 miliar.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 08 Januari 2021  |  17:15 WIB
Pegawai Elnusa mengerjakan proyek migas. Istimewa - Pertamina
Pegawai Elnusa mengerjakan proyek migas. Istimewa - Pertamina

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah menargetkan investasi dari sektor minyak dan gas bumi tahun ini sebesar US$17,7 miliar. Di tengah pandemi Covid-19, target itu dinilai masih realistis.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai target yang dipatok pemerintah tahun ini masih dapat dicapai kendati memang tidak mudah.

Menurutnya, kondisi pada hampir seluruh sektor pada 2021 kemungkinan akan relatif lebih baik dibandingkan dengan 2020 sehingga target itu dinilai masih realistis untuk dicapai.

"Secara otomatis besaran kebutuhan investasi termasuk di sektor migas juga akan relatif lebih besar," katanya kepada Bisnis, Kamis (7/1/2021).

Di lain pihak, Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan menilai target investasi di sektor migas pada 2021 masih cukup berat untuk dicapai.

Menurutnya, sampai dengan saat ini kepastian hukum untuk investasi melalui revisi Undang-Undang Migas yang sangat dinantikan investor masih belum juga diselesaikan.

Di samping itu, sejumlah permasalahan yang masih perlu diperhatikan seperti permasalahan lahan, isu sosial, dan beberapa perizinan harus seger diselesaikan dan disederhanakan.

"Di sisi lain lapangan migas kita yang sudah tua dan tingkat rasio keberhasilannya cukup kecil menyebabkan investor berhati hati dalam menanamkan modalnya," katanya kepada Bisnis, Kamis (7/1/2021).

Lebih lanjut, Mamit menyampaikan bahwa Covid-19 sepertinya akan memberikan dampak juga terhadap kegiatan investasi migas karena permintaan energi akan berkurang sehingga harga minyak cenderung tidak stabil dan hal tersebut menjadi perhitungan sendiri bagi investor dalam berinvestasi di sektor migas.

Kendati harga minyak mulai kembali naik, pergerakan harga minyak dunia masih sulit untuk diprediksi karena belum dapat dipastikan kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

"Pandemi Covid-19 sudah memasuki gelombang ketiga di mana di beberapa negara sudah mulai terjadi pembatasan sehingga potensi terjadinya oversupply cukup besar, mudah-mudahan saja kabar baik mulai ditemukannya vaksin dapat terus menjaga harga minyak dunia," ungkapnya.

Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan investasi untuk dari sektor energi tahun ini bisa mencapai US$36,4 miliar. Perinciannya adalah dari sektor energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) mencapai US$2,9 miliar, minerba US$6 miliar, ketenagalistrikan US$9,9 miliar, dan migas US$17,7 miliar.

Sementara itu, pada tahun lalu realisasi investasi dari sektor ESDM adalah US$24,4 miliar lebih rendah lebih rendah US$8,6 miliar jika dibandingkan dengan tahun lalu senilai US$33 miliar.

Subsektor migas masih memberi kontribusi investasi terbesar paling besar yaitu US$12,1 miliar disusul subsektor ketenagalistrikan sebesar US$7 miliar, minerba US$3,9 miliar, dan EBTKE sebesar US$1,4 miliar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi migas penanaman modal
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top