Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Negara di Dunia Makin Protektif, Pengusaha: RI Sudah On the Track

Semakin maraknya penggunaan instrumen trade remedies tidak bisa dihindari Indonesia karena merupakan hak semua negara dan diperkenankan dalam aturan WTO.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 29 Desember 2020  |  19:01 WIB
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan pengusaha menilai Indonesia telah berada di jalur yang tepat dalam menjalin kerja sama perdagangan meski negara-negara di dunia semakin marak memproteksi pasar di dalam negeri masing-masing.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani mengatakan kerja sama perdagangan yang dijalin Indonesia dengan mitra penting secara otomatis akan mengekang lahirnya kebijakan yang bersifat protektif.

Dia menilai jalinan kerja sama ini penting untuk jaminan iklim berdagang antarnegara di tengah berlangsungnya reformasi WTO selaku wasit perdagangan internasional.

“FTA maupun CEPA penting bagi Indonesia untuk menjamin iklim perdagangan dan akses ekspor nasional di tengah ketidakpastian yang terjadi secara multilateral,” kata Shinta.

Semakin maraknya penggunaan instrumen trade remedies pun disebut Shinta tidak bisa dihindari Indonesia karena merupakan hak semua negara dan diperkenankan dalam aturan WTO. Dia mengatakan bahwa yang harus menjadi perhatian utama adalah kepastian bahwa kebijakan perdagangan dan industri nasional tidak bertentangan dengan perdagangan global.

Selain itu, Shinta pun mengharapkan ada edukasi lebih bagi pelaku usaha, terutama eksportir terkait potensi trade remedies. Dia mengatakan kendala yang kerap dialami sejauh ini adalah koordinasi yang terlambat antara stakeholder terkait.

Perbaikan kualitas SDM dan sistem di tingkat nasional terkait penyelidikan dagang dan pembelaan kasus trade remedies pun dinilai Shinta perlu dilakukan. Menurutnya, Indonesia hampir tak memiliki trade intelligence yang kuat sehingga jarang memulai penyelidikan dumping maupun subsidi.

“Bahkan kalau ditemukan dan terbukti ada praktik dumping atau subsidi, sering tidak dikenakan sanksi kepada eksportir di negara asal karena alasan kepentingan nasional, misalnya untuk menjaga kelancaran pasokan bahan baku. Ini praktik yang salah dan merugikan pasar nasional dan berkontribusi menyebabkan peningkatan ketergantungan impor nasional,” ujar Shinta.

Shinta mengatakan koordinasi antara pemerintah dan eksportir perlu dibenahi sehingga pembelaan bisa dilakukan secara efisien. Di samping itu, dia juga mengharapkan agar industri dalam negeri bisa terus meningkatkan kapasitas agar bisa bersaing di pasar global.

Diversifikasi ekspor pun diharapkan dapat berlanjut demi mencapai stabilitas ekspor yang tidak hanya bergantung pada beberapa komoditas.

“Bila ekspor nasional terus menerus didominasi oleh komoditas tertentu, stabilitas penerimaan ekspor rentan hancur seketika bila diserang trade remedies atau measures proteksionis lain di negara tujuan,” kata dia. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor perdagangan internasional Hambatan Perdagangan
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top