Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dukung Pengembangan EBT, Pertamina Terapkan Strategi Green Energy

Pertamina juga tengah bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk  mengembangkan bio-crude dari mikroalgae.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 18 Desember 2020  |  14:50 WIB
Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) komersial pertama Pertamina di SPBU Fatmawati sudah mulai beroperasi, Kamis (10/12/2020).  - ANTARA
Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) komersial pertama Pertamina di SPBU Fatmawati sudah mulai beroperasi, Kamis (10/12/2020). - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA – PT Pertamina (Persero) telah menyusun sejumlah strategi pengembangan energi hijau untuk meningkatkan bauran energi baru terbarukan dalam bauran energinya.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyampaikan strategi untuk mendukung upaya pemerintah dalam meningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) dibagi menjadi tiga bagian. Dari sisi hulu, perseroan melakukan beberapa langkah green energy, salah satunya dengan terus meningkatkan cadangan maupun produksi gas.

"Kalau kita lihat dari RUEN, minyak memang menurun nanti dari sisi persentase. Tetapi dari gas ini akan mengalami peningkatan. Oleh karena itu, dari sisi hulu gas kami akan lakukan terus peningkatan cadangan maupun produksi.  Untuk minyak tentu akan kami tetap sesuaikan dengan kebutuhan nasional yang telah ditetapkan dalam RUEN," katanya dalam acara Peresmian PLTS Rooftop di 63 SPBU Pertamina secara virtual, Jumat (18/12/2020).

Pertamina juga tengah bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk  mengembangkan bio-crude dari mikroalgae.

Kemudian dari sisi midstream, Pertamina telah melaksanakan mandatori B30 dan akan meneruskan program biodiesel tersebut ke B40.  Nicke menuturkan, hasil kajian teknis B40 diperkirakan akan selesai pada triwulan pertama tahun depan. 

"Kami juga melihat dari sisi keekonomian dan efisiensi yang bisa kami lakukan.  Jadi kami bersama dengan perusahaan sawit sedang melihat bisnis model yang lebih terintegrasi dari hulu ke hilir agar HVO [Hydrotreated Vegetable Oil] ini nanti bisa kami hasilkan dengan lebih kompetitif," ujar Nicke.

Dalam perjalanannya, saat ini Kilang Dumai telah mampu menghasilkan green diesel hingga 1.000 barel per hari (bph) dan Kilang Cilacap mencapai 3.000 bph. Kapasitas tersebut rencananya akan ditingkatkan ke level 6.000 bph. Hal ini mengingat animo HVO dari pasar luar negeri sangat besar.  

"Kami sudah mendapatkan beberapa potensial buyer untuk HVO di luar. Dengan harga yang baik, ini tentu akan bagus sekali karena kalau kami coba kombinasikan antara pasar di luar dengan harga yang tinggi dengan nantinya adanya PSO [public service obligation] yang harus dijalankan Pertamina dalam negeri, kalau kami kombinasikan ini kemudian bisa meningkatkan keekonomian  jika kita akan melanjutkan ke B40 dan B50," katanya.

Sementara itu dari sisi hilir, Pertamina berencana memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di seluruh SPBU perseroan. Saat ini, Pertamina telah melaksanakan pemasangan PLTS di 63 SPBU yang tersebar di beberapa daerah.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina energi baru terbarukan
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top