Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasokan Gula Industri Menipis, Pabrik Rafinasi Minta Kepastian Izin Impor

Kelangkaan pasokan dikhawatirkan akan berakibat pada berkurangnya produktivitas industri makanan dan minuman. 
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 11 Desember 2020  |  15:01 WIB
Alat khusus pengangkat mengatur tumpukan karung berisi gula rafinasi di salah satu pabrik di Makassar, Sulsel, beberapa waktu lalu. - Bisnis/Paulus Tandi Bone
Alat khusus pengangkat mengatur tumpukan karung berisi gula rafinasi di salah satu pabrik di Makassar, Sulsel, beberapa waktu lalu. - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Industri gula rafinasi berharap pemerintah segera menerbitkan izin impor di tengah kekhawatiran pasokan yang makin menipis untuk awal 2021. Pelaku usaha telah menyuarakan potensi pasokan yang menipis sejak sebulan yang lalu.

Ketua Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Bernardi Dharmawan mengkhawatirkan pasokan yang terbatas bakal membuat kelangkaan bahan baku bagi industri makanan dan minuman kembali terulang pada awal 2021. Kondisi ini sempat terjadi pada awal 2020.

“Kami dari AGRI sedang komunikasikan dengan pemerintah untuk segera menggelar rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Menko Perekonomian. Namun sampai saat ini kami belum mendapatkan informasi, tahapnya masih panjang sampai izin terbit,” kata Bernardi saat dihubungi, Jumat (11/12/2020).

Bernardi menjelaskan bahwa stok yang tersisa di 11 pabrik rafinasi anggota AGRI saat ini berada di angka 360.000 ton. Padahal kebutuhan bulanan untuk industri makanan dan minuman bisa mencapai 250.000 ton dan berpotensi naik pada akhir tahun yang bertepatan dengan Natal dan Tahun Baru.

“Selain itu saat ini pasokan gula hanya datang dari Brasil, dan itu membutuhkan waktu dua bulan. Harapan kami seharusnya sejak November sudah ada izin,” lanjutnya.

Dia menjelaskan kebutuhan untuk setahun serta buffer stock sejatinya sudah dihitung sejak awal 2020 di mana izin impor yang diberikan mencapai 3,2 juta ton. Meski demikian, Bernardi mengatakan terdapat pabrik di luar asosiasi yang juga mendapatkan rekomendasi impor sehingga stoknya tidak bisa dipantau.

“Untuk AGRI total impor yang kami lakukan kurang lebih 2,9 juta ton. Ada sekitar 300.000 ton di luar anggota yang sulit kami pantau pasokannya,” imbuh dia.

Terpisah, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman pun menyuarakan harapan senada mengingat pasokan bahan baku diperkirakan hanya akan bertahan sampai awal Januari. 

Kelangkaan pasokan dikhawatirkan akan berakibat pada berkurangnya produktivitas industri makanan dan minuman. 

“Hal ini pada akhirnya akan menambah tekanan pada perekonomian yang belum pulih,” kata Adhi.

Adhi juga mengatakan bahwa kelangkaan pasokan bisa berimbas ke munculnya permasalahan lain, seperti kelangkaan barang di pasar, serta sektor hulu lain yang memasok produk peternakan dan pertanian, serta potensi banjirnya impor untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor industri makanan dan minuman gula rafinasi
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top