Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tiga Proyek Gasifikasi Pembangkit PLN Segera Beroperasi

Tiga pembangkit yang masuk dalam tahapan pengerjaan quick win, yaitu PLTMG Nias (25 MW), PLTMG Tanjung Selor (15 MW), dan PLTMG Sorong (50 MW).
Ilustrasi Pembangkit listrik./Istimewa
Ilustrasi Pembangkit listrik./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — PT PLN (Persero) menyebutkan bahwa tiga proyek gasifikasi pembangkit listrik tenaga diesel milik perseroan siap beroperasi dalam waktu dekat.

Tiga pembangkit yang masuk dalam tahapan pengerjaan quick win, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Nias (25 MW), PLTMG Tanjung Selor (15 MW), dan PLTMG Sorong (50 MW).

Direktur Bisnis Regional Jawa, Madura, dan Bali PLN Haryanto W.S. mengatakan bahwa untuk pengerjaan PLTMG Sorong diperkirakan rampung pada akhir tahun ini atau awal tahun depan.

"Sesuai dengan Kepmen ESDM No.13/2020,  ini dikerjakan oleh Pertamina dan PGN dan minggu lalu sudah dipresentasikan ke Pak Menteri [ESDM]. Insyaallah yang Sorong ini kami harapkan Desember atau Januari bisa beroperasi. Nias dan Tanjung Selor dalam waktu dekat," ujar Haryanto dalam webinar, Rabu (3/12/2020).

Dalam rangka pelaksanaan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 13/ 2020, PT Indonesia Power, anak usaha PLN, dan PT Malamoi Olom Wobok telah menyepakati perjanjian jual beli gas untuk PLTMG Sorong pada 16 November 2020.

PLTMG Sorong 50 MW yang saat ini menggunakan bahan bakar biosolar (B20/B30) memiliki biaya pokok penyediaan (BPP) listrik sebesar Rp1.847 per kWh. BPP Listrik tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan ketetapan pemerintah sebesar Rp1.465 per kWh. Melalui program gasifikasi ini diharapkan dapat menurunkan BPP listrik menjadi sebesar Rp1.368 per kWh.

Pemerintah telah menugaskan kepada PLN dan Pertamina untuk mengonversi penggunaan high speed diesel (HSD) menjadi gas pada 52 pembangkit PLN yang tersebar di seluruh Indonesia. Estimasi kapasitas pembangkit yang dilakukan gasifikasi kurang lebih 1,8 gigawatt (GW).

Menurut Haryanto, PLN terus melakukan pembicaraan dengan Pertamina dan PGN terkait dengan rencana gasifikasi di 49 pembangkit lainnya.

"Memang yang sangat kritis gas ini dari risk take or pay di situ kemudian ini kontrak jangka panjang maka yang jadi kunci akurasi demand forecasting. Itu nantinya berkorelasi dengan kebutuhan gas dan infrastrukturnya dan akan banyak menentukan apakah mahal dan murahnya daripada harga BPP dengan gas ini," katanya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Zufrizal
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper