Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengembangan Bioenergi Masih Berjalan Lambat, Apa Penyebabnya?

Hingga akhir 2019, kapasitas terpasang pembangkit berbasis bioenergi baru mencapai 1.889,50 megawatt (MW). Capaian ini masih jauh dari target RUEN pada 2025 yang ditargetkan 5,50 GW.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 19 November 2020  |  21:04 WIB
Ilustrasi: Pekerja memeriksa pipa gas metan di instalasi Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Biogas berkapasitas 700 kilowatt di Pabrik Kelapa Sawit PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V Terantam, Kabupaten Kampar, Riau (4/3/2019). - ANTARA/FB Anggoro
Ilustrasi: Pekerja memeriksa pipa gas metan di instalasi Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Biogas berkapasitas 700 kilowatt di Pabrik Kelapa Sawit PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V Terantam, Kabupaten Kampar, Riau (4/3/2019). - ANTARA/FB Anggoro

Bisnis.com, JAKARTA — Pengembangan bioenergi di Indonesia masih jauh dari harapan meskipun potensinya lumayan besar.

Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna mengatakan bahwa pengembangan bioenergi memiliki potensi yang cukup besar, tetapi pengembangannya masih menemui sejumlah tantangan sehingga belum cukup melaju perkembangannya.

"Tantangan baik dari sisi data potensi yang memang perlu kami update berkala lebih terperinci, kemudian tingginya biaya investasi, dan keberlanjutan dari bahan baku. Jadi tantangan tersendiri bagaimana menjamin feed stock tercukupi dalam waktu yang panjang dan harganya bisa stabil," ujarnya dalam sebuah webinar, Kamis (19/11/2020).

Pengembangan bioenergi dilakukan antara lain melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga bioenergi, pengembangan biofuel, pengembangan biogas, dan biomassa.

Hingga akhir 2019, kapasitas terpasang pembangkit berbasis bioenergi baru mencapai 1.889,50 megawatt (MW). Capaian ini masih jauh dari target Rencana umum energi nasional (RUEN) pada 2025 yang ditargetkan sebesar 5,50 GW.

Untuk program pengembangan biogas pada 2019 telah mencapai 26,28 juta meter kubik, sedangkan RUEN menargetkan pada 2025 dapat mencapai 489,80 juta meter kubik.

Sementara itu, realisasi serapan biofuel pada 2019 tercatat mencapai 6,37 juta kiloliter, masih terdapat selisih sekitar 7,53 juta kiloliter untuk mencapai target RUEN pada 2025.

Kasubdit Investasi dan Kerjasama Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Elis Heviati menambahkan bahwa guna mendorong pengembangan bioenergi, saat ini direktoratnya fokus untuk melakukan subtitusi energi fosil dengan pembangkit listrik energi terbarukan.

"Kami cukup realistis melihat kondisi saat ini di mana terjadi penurunan demand energi yang cukup besar. Untuk itu, tahun ini fokus kami bukan pada peningkatan kapasitas, melainkan substitusi energi fosil," katanya.

Dia menuturkan bahwa salah satu program andalan substitusi adalah program co-firing biomassa. Program ini memanfaatkan pelet biomassa untuk menyubstitusi sebagian batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT PLN (Persero) yang sudah ada.

Terdapat 114 unit PLTU dengan total kapasitas 18.154 MW yang berpotensi untuk dilakukan co-firing biomassa. Hingga Oktober 2020, PLN telah melakukan uji coba co-firing di 16 PLTU miliknya dengan hasil memuaskan.

Implementasi co-firing dengan komposisi sebesar 1 persen—5 persen dapat meningkatkan porsi bauran EBT dalam bauran energi nasional sebesar 0,18—0,90 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bioenergi energi hijau
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top