Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Target Lifting 1 Juta Bph, Pakar Geologi : Harus Ada Penemuan Baru

Di tengah kondisi rendahnya harga minyak saat ini, akan sulit bagi Indonesia untuk menarik investor asing melakukan eksplorasi.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 16 November 2020  |  21:46 WIB
Platform offshore migas. Istimewa - SKK Migas
Platform offshore migas. Istimewa - SKK Migas

Bisnis.com, JAKARTA — Pakar geologi migas Indonesia R.P. Koesoemadinata menyangsikan target produksi minyak siap jual atau lifting 1 juta barel per hari dapat tercapai, tanpa adanya penemuan lapangan migas baru.

Dia mengatakan bahwa dalam 20 tahun terakhir eksplorasi migas berjalan stagnan, alhasil produksi migas dalam negeri mengalami penurunan secara alami.

"Selama lebih dari 10 tahun eksplorasi kita nyaris tidak ada, kecuali Pertamina yang masih lakukan. Terasanya sekarang untuk meningkat sampai 1 juta barel segala usaha harus dilakukan Pertamina. Namun, secara esensial harus didapatkan lagi suatu discovery," ujarnya dalam Peluncuran Buku "An Introduction Into The Geology of Indonesia" oleh R.P. Koesoemadinata secara virtual, Senin (16/11/2020).

Koesoemadinata menuturkan bahwa eksplorasi membutuhkan investasi dengan risiko tinggi. Namun, di tengah kondisi rendahnya harga minyak saat ini, maka akan sulit bagi Indonesia untuk menarik investor asing melakukan eksplorasi.

"Kalau harga rendah orang tidak akan eksplorasi. Ngapain cari minyak kalau harga rendah. Saya kira kita akan kesulitan untuk mengundang investor asing ke Indonesia. Maka kita harapkan perusahaan nasional untuk bisa tingkatkan eksplorasi dan cadangan," katanya.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif memaparkan bahwa saat ini Indonesia masih memiliki cadangan minyak bumi sebanyak 3,77 miliar barel dan gas bumi 77,3 triliun kaki kubik.

Oleh karena itu, pemerintah mendorong eksplorasi secara masif. Dalam memberi dukungan terhadap kegiatan eksplorasi, pemerintah memberi keleluasaan bagi investor untuk memilih kontrak kerja sama, yaitu cost recovery atau gross split, melalui penerbitan Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penegasan Pemberlakuan Bentuk Kontrak Kerja Sama Migas.

"Kita masih memerlukan adanya giant discovery mengingat konsumsi kita ke depan yang akan sangat besar. Ini menjadi tantangan ke depan bagaimana kita bisa melakukan temuan terhadap 68 potensi cekungan di wilayah Indonesia," kata Arifin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cadangan migas geologi
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top