Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perbaikan Harga Komoditas Topang Ekspor, RI Harus Diversifikasi

Indonesia dinilai tidak bisa terus-menerus bergantung pada ekspor komoditas dalam jangka panjang karena daya saingnya lebih rendah dibandingkan produk lainnya.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 16 November 2020  |  17:03 WIB
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja ekspor Indonesia mencetak rekor tertinggi sepanjang tahun pada Oktober 2020 dengan capaian US$14,39 miliar.

Nilai ekspor ini lebih besar dibandingkan capaian pada Maret yang sebelumnya memegang rekor dengan nilai US$14,07 miliar.

Secara akumulatif, ekspor Oktober naik 3,09 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kenaikan ditopang oleh bertambahnya nilai ekspor sejumlah komoditas seperti produk minyak nabati sebesar US$188,1 juta dan bahan bakar mineral yang bertambah US$167,1 juta. Hal ini terjadi seiring kenaikan harga global untuk komoditas tersebut.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani mengatakan kenaikan ekspor terjadi karena ekonomi global tumbuh lebih positif, terutama untuk kawasan Asia Pasifik yang pengendalian pandeminya lebih baik.

Selain itu, rampungnya Pemilihan Presiden Amerika Serikat disebutnya juga mendorong kenaikan permintaan dan fluktuasi harga komoditas bahan baku atau penolong industri manufaktur.

“Ini menyebabkan kenaikan demand dan juga fluktuasi pada harga raw materials atau komoditas ekspor nasional. Karena itu bisa kita lihat peningkatan volume ekspor raw materials khususnya pada batu bara dan besi-baja,” kata Shinta saat dihubungi, Senin (16/11/2020).

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor bahan bakar mineral dengan kode HS 27 naik 14,25 persen dari 28,35 juta ton pada September menjadi 32,39 juta ton pada Oktober 2020. Nilai ekspor pun naik 15,69 persen dari US$1,06 miliar menjadi US$1,23 miliar.

Kenaikan nilai yang lebih tinggi dibandingkan volume tersebut sejalan dengan naiknya harga rata-rata batu bara di pasar global dari US$57,47 per ton pada September menjadi US$61,04 per ton saat Oktober.

Kenaikan harga komoditas tak hanya terjadi di batu bara. Minyak sawit yang memberi kontribusi ekspor nonmigas terbesar bagi RI juga memperlihatkan tren kenaikan serupa dengan kenaikan nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan volume.

Bank Dunia melaporkan harga rata-rata sawit bergerak dari US$796,2 per ton pada September menjadi US$819,27 per ton. Harga tersebut merupakan yang tertinggi dalam 10 bulan terakhir.

Meski kenaikan harga komoditas memberi kontribusi kenaikan ekspor, Shinta memberi catatan bahwa kinerja dagang akan terus diselimuti ketidakpastian jika mengandalkan produk-produk tersebut.

Dia mengatakan sejauh ini Indonesia belum punya peran besar dalam memengaruhi harga komoditas di level global karena lebih banyak dipengaruhi oleh dorongan pasokan dan permintaan.

“Jadi tergantung negara-negara sesama pemasok dan tren permintaan konsumsi di pasar internasional yang keduanya di luar kendali kita,” kata Shinta.

Selain itu, Shinta juga mengatakan bahwa perdagangan komoditas tengah memasuki masa sunset karena perekonomian global memasuki tren bisnis berkelanjutan, contohnya dengan model ekonomi sirkular. Pendekatan ini membuat dunia usaha beralih ke konsumsi komoditas yang hemat energi atau ramah lingkungan.

“Yang sustainable dan relatif stabil harganya pada masa mendatang kemungkinan hanya komoditas pangan. Komoditas migas, pertambangan dan bahkan produk manufaktur dasar seperti besi dan baja kemungkinan besar akan turun,” paparnya.

Oleh karena itu, Shinta mengatakan Indonesia tidak bisa terus-menerus bergantung pada ekspor komoditas dalam jangka panjang. Menurutnya, Indonesia harus memulai melakukan diversifikasi produk dan meningkatkan ekspor nonkomoditas.

“Kalau tidak, kinerja ekspor nasional akan terus turun karena terlalu tergantung pada komoditas seperti CPO dan batu bara,” kata Shinta.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan ekspor nonmigas yang meningkat sejalan dengan pemulihan ekonomi di destinasi seperti Amerika Serikat, China, Jepang, India, dan negara-negara zona Euro. Pemulihan ini diikuti dengan perbaikan sektor manufaktur yang lantas mengerek permintaan komoditas.

“Pemulihan ekonomi global tersebut juga turut mendorong kenaikan permintaan komoditas sehingga mendorong kenaikan harga komoditas seperti CPO yang naik sekitar 15,4 persen year to date, karet alam naik 8,7 persen year to date dan nikel naik 13,3 persen year to date,” kata Josua.

Sementara untuk kinerja impor yang masih melanjutkan tren penurunan, Josua mengatakan bahwa hal tersebut menjadi indikasi bahwa kapasitas produksi pada Oktober belum pulih sejak pandemi Covid-19 terjadi. Hal ini tecermin pula dari aktivitas manufaktur pada Oktober yang masih berada di fase kontraktif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga komoditas kinerja ekspor
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top